Jakarta: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi merilis laporan Disease Outbreak News (DONs) terkait temuan kasus infeksi virus Nipah di Bengala Barat, India. Laporan tertanggal 30 Januari 2026 tersebut mengungkapkan tujuh poin krusial mengenai kemunculan virus yang menyerang tenaga kesehatan dan kini menjadi perhatian serius para pakar kesehatan global.
"Pada 30 Januari 2026 kejadian infeksi virus nipah di Bengala Barat, India masuk dalam DONs WHO. Setidaknya, ada tujuh hal yang dituliskan dalam laporan WHO tiga hari yang lalu itu yang menjelaskan kejadian yang terjadi, yang tentu perlu kita ketahui untuk penanggulangannya," ujar Pakar Kesehatan dari Universitas Griffith Australia, Prof. Tjandra Yoga Aditama di Jakarta, dilansir dari Antara, Senin, 2 Februari 2026.
Baca Juga :
Kepala BGN: Presiden Instruksikan Kualitas MBG DitingkatkanMantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara ini menjelaskan, dua kasus terbaru menimpa seorang perawat pria dan wanita berusia 20-30 tahun di sebuah rumah sakit swasta di Barasat. Keduanya mulai menunjukkan gejala berat pada akhir Desember 2025 dan dinyatakan positif terinfeksi virus Nipah setelah melalui uji laboratorium intensif pada Januari 2026.
"Waktu saya masih menjadi Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, memang reputasi The India National Institute of Virology selalu terpuji baik, dan akan bagus kalau kita di Indonesia juga punya institusi serupa," kata Prof. Tjandra.
Kondisi kedua pasien dilaporkan cukup memprihatinkan; pasien wanita masih dalam keadaan kritis di ruang ICU dengan bantuan ventilator, sementara pasien pria mengalami gangguan neurologis berat meski perlahan membaik. Hingga kini, otoritas kesehatan masih belum berhasil mengidentifikasi sumber penularan utama yang menginfeksi kedua perawat tersebut.
Ilustrasi. Foto: Dok. Medcom.id
"Dengan belum ditemukannya bagaimana dua orang perawat di India ini tertular maka tentu sumber penular awalnya belum diketahui sehingga penanganannya belum sepenuhnya tuntas," tegasnya.
Meski WHO menyatakan risiko kesehatan di tingkat regional dan global masih dalam kategori rendah, virus Nipah tetap dimasukkan ke dalam daftar patogen prioritas. Langkah ini diambil untuk mempercepat pengembangan alat deteksi dan upaya penanganan medis (medical countermeasures) sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi potensi epidemi maupun pandemi di masa depan.


