Bisnis.com, BANDUNG — Ekonomi Jawa Barat mengawali 2026 dengan penurunan sejumlah harga kebutuhan pokok yang akibatkan deflasi 0,09% secara month to month (mtm).
Deflasi yang terjadi di Jawa Barat pada awal 2026 mencerminkan melemahnya permintaan dari konsumen. Penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta transportasi mengindikasikan konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya pulih setelah periode akhir tahun. Kondisi ekonomi yang mendingin ini cenderung terjadi saat ekonomi tertekan yang diikuti para pelaku usaha menurunkan harga untuk menjaga volume penjualan.
Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Provinsi Jawa Barat Ninik Anisah menjelaskan, berdasarkan kelompok pengeluaran, deflasi terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang turun 0,91% dengan andil deflasi 0,28%.
“Kelompok transportasi juga alami deflasi sebesar 0,26% dengan andil inflasi sebesar 0,03%,” ungkap dia pada rilis Berita Resmi Statistik di Kantor BPS Provinsi Jawa Barat, Senin (2/2/2026).
Ia melanjutkan, secara komoditas, deflasi terutama disumbang oleh cabai merah dengan andil 0,10%. Selanjutnya, cabai rawit, daging ayam ras, dan bawang merah masing-masing menyumbang andil deflasi sebesar 0,06%, serta telur ayam ras sebesar 0,04%.
Di sisi lain, sejumlah komoditas masih memberikan tekanan inflasi. Komoditas dengan andil inflasi terbesar adalah emas perhiasan sebesar 0,18%, disusul tomat, ikan kembung, bawang putih, dan beras yang masing-masing menyumbang andil inflasi sebesar 0,01%.
Baca Juga
- Riau Incar Rp4 Triliun dari Pajak Air Permukaan di Kebun Sawit Raksasa
- Kasus Korupsi Sertifikat K3 di Kemenaker, Saksi Ungkap Jaksa Minta Uang Rp1,5 Miliar
- 4 Wanita Terkaya Indonesia 2026 Versi Forbes, Pemilik Data Center hingga Tambang
Menurut Ninik, hampir seluruh kabupaten dan kota yang menjadi wilayah pemantauan inflasi di Jawa Barat mengalami deflasi. Kota Bogor mencatat deflasi sebesar 0,21%, Kota Sukabumi 0,03%, Kota Bandung 0,09%, Kota Cirebon 0,44%, Kota Depok 0,16%, Kota Tasikmalaya 0,05%, Kabupaten Bandung 0,15%, Kabupaten Subang 0,21%, serta Kabupaten Majalengka 0,11%.
Sementara itu, hanya satu daerah yang mengalami inflasi, yakni Kota Bekasi dengan inflasi sebesar 0,07%.
Inflasi adalah kondisi berbalikan dari deflasi. Pada kondisi inflasi barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan harga sehingga menyebabkan daya beli uang menurun. Inflasi terjadi ketika jumlah uang atau permintaan dalam perekonomian lebih cepat meningkat dibandingkan kemampuan produksi barang dan jasa.
Meski ekonomi Jawa Barat medingin, dia mengatakan deflasi pada awal tahun bukan kali pertama terjadi di Jawa Barat. Sepanjang 2025, deflasi tercatat terjadi sebanyak empat kali, masing-masing pada Januari, Februari, Mei, dan Agustus.
“Secara year on year (yoy) Jawa Barat alami inflasi 3,24%, masih di bawah target tahunan,” jelasnya



/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2026%2F02%2F02%2Ffaf08d34-749b-42f6-9e14-f954ad9e056c.jpg)
