Kadang, hidup tak selalu adil. Bangun pagi terasa berat karena tugas kuliah menumpuk, sementara malam sebelumnya baru selesai belajar untuk ujian atau menulis laporan praktikum. Belum lagi jika jurusan yang dijalani tidak sesuai dengan minat bakat diri sendiri dan pertemanan kuliah yang begitu rumit. Semua terasa melelahkan dan di luar kendali. Kita berada di ambang kata “menyerah” dan “bertahan”.
Hidup rasanya penuh kepalsuan. Seperti ketika harus tersenyum saat presentasi di depan dosen dan teman sekelas, padahal hati ingin berdiam saja. Bangun dengan napas berat dan senyuman manis, rasanya seperti memainkan peran yang tak kunjung usai. Perlahan, jati diri terasa kabur karena terlalu banyak sandiwara yang dimainkan.
Kuat bukanlah aksi, melainkan opsi. Terkesan pemaksaan, tapi itulah kenyataan. Perasaan ini berawal dari keterpaksaan yang kemudian tumbuh menjadi kebiasaan. Kuat mengajarkan untuk menahan lelah, berani tidak menyerah, dan berdamai dengan takdir yang membuat kita kalah.
Seperti ketika harus menyelesaikan beberapa tugas sekaligus sambil mempersiapkan kuis, walau tubuh ingin rebahan seharian. Semua itu dilakukan agar kita sadar bahwa mengeluh tidak akan mengubah apa pun. Kita bukan hebat karena kuat, justru kita hebat karena berani menjadi kuat.
Namun, ada harga yang harus dibayar untuk menjadi kuat. Lelah yang menumpuk terasa tak tertahankan. Seperti setelah seharian kuliah, mengerjakan tugas di perpustakaan, dan menghadiri kegiatan organisasi, pulang ke kos atau rumah dengan pikiran hampa. Raga bergerak, tapi hati tertinggal. Energi terkuras, pikiran pun lelah. Hancur berkali-kali sudah menjadi bagian sehari-hari. Hidup yang dulu penuh makna kini terasa datar. Tapi dari rasa sakit itulah perlahan tumbuh kekuatan untuk bangkit.
Di titik tertentu, kita mempertanyakan makna kuat. Sampai kapan harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja? Sampai kapan bertahan di jalan hidup yang rumit, sementara kebahagiaan tampak semu? Seperti menonton teman sekelas lancar mengerjakan tugas, sementara kita menahan frustrasi sendiri di kamar. Keinginan berhenti sejenak muncul, bukan karena menyerah, tapi karena ingin jujur pada diri sendiri. Menjadi rapuh sesaat tidak masalah, itu tanda kita masih manusia. Kadang menangis perlu, karena itu tanda hati masih mampu merasa.
Rasa kuat tidak selalu tentang bangkit dan berdiri sendiri. Kuat juga berarti berani mengakui saat lelah membuat kita perlu mengalah. Ada kalanya menata ulang langkah, menarik napas, lalu kembali berjalan menentukan arah. Hidup bukan tentang siapa yang terlihat paling hebat atau kuat.
Hidup adalah tentang siapa yang mampu bertahan tanpa kehilangan diri sendiri. Seperti duduk sebentar menikmati langit sore sebelum melanjutkan tugas dan persiapan ujian. Bertahan bukan berarti menyangkal lelah, tapi memahami kapan harus melangkah dan kapan perlu beristirahat, agar perjalanan tetap bermakna.



