Bisnis.com, MALANG — Kota Malang mengalami deflasi -0,10% pada Januari 2026 yang dipicu utamanya penurunan harga cabai rawit.
Kepala BPS Kota Malang Umar Sjaifudin mengatakan deflasi tersebut terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil sebesar 0,34% terhadap deflasi umum.
“Deflasi m-to-m pada Januari 2026 dipicu oleh beberapa komoditas utama penyumbang deflasi antara lain cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras dan bawang merah,” ujarnya Senin (2/2/2026).
Ia menjelaskan, penurunan harga sejumlah komoditas hortikultura, khususnya cabai rawit dan cabai merah, terjadi seiring meningkatnya produksi pada masa panen raya. Kondisi pasokan yang melimpah mendorong penyesuaian harga di tingkat konsumen.
Sementara itu, inflasi tahun ke tahun (year on year/yoy) Kota Malang pada Januari 2026 tercatat menjadi 3,3%. Inflasi tahunan tersebut dipicu oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang memberikan andil sebesar 1,04% terhadap inflasi umum.
Adapun inflasi tahun kalender pada Januari 2026 dipengaruhi oleh beberapa komoditas utama, antara lain tarif listrik, emas perhiasan, beras, bahan bakar rumah tangga, serta sigaret kretek mesin (SKM). BPS mencatat inflasi pada kelompok makanan menunjukkan tren yang berfluktuasi, sementara subkelompok perawatan pribadi cenderung mencatatkan inflasi secara konsisten setiap bulan.
Baca Juga
- Koperasi Merah Putih Malang Diarahkan Garap Bisnis Supplier SPPG Makan Bergizi Gratis (MBG)
- Arek Jatim Tarik Kredit Rp623 Triliun dari Perbankan per November 2025
- Asosiasi Rokok Kecil-Menengah Tolak Rencana Menkeu Purbaya Tambah Layer Cukai
Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Joko Budi Santoso menilai komoditas seperti cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras memiliki bobot yang signifikan dalam perhitungan inflasi. Penurunan harga komoditas tersebut secara agregat mendorong terjadinya deflasi.
Di sisi lain, Joko menilai deflasi juga mencerminkan kecenderungan masyarakat yang mulai menahan pengeluaran sebagai antisipasi menghadapi Ramadan dan Lebaran. Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), dalam mengantisipasi potensi lonjakan permintaan pada momen keagamaan.
Menurut dia, pemantauan pergerakan harga melalui sistem informasi harga bahan pokok perlu dilakukan secara harian guna menjaga daya beli masyarakat di tengah potensi tekanan inflasi pada Februari.



