Bisnis.com, SURABAYA – Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya mewaspadai kedatangan para jemaah umrah dan wisatawan perjalanan negara asal Asia Tenggara guna mengantisipasi penyebaran virus Nipah.
Kehadiran virus Nipah dari sejumlah negara di kawasan Asia Selatan seperti India dan Bangladesh tengah hangat menjadi perbincangan dunia kesehatan global. Virus itu disebut memiliki ancaman yang cukup serius karena tingkat kematiannya yang tinggi.
Kepala BBKK Surabaya Rosidi Roslan menjelaskan proses penularan virus tersebut dapat melalui kontak langsung, dengan pemicu utamanya berasal dari hewan kelelawar.
“Kelelawar pemakan buah atau bisa juga kan dia melalui konsumsi makanan, untuk minuman yang terkontaminasi, sehingga kita wabah virus Nipah ini menjadi ancaman,” beber Rosidi, Selasa (3/2/2026).
Virus Nipah dianggap menjadi ancaman sebab memiliki fatalitas tinggi serta belum vaksin sebagai langkah penanganan dini belum ditemukan. Apalagi, kehadirannya disebut telah terdeteksi di negara-negara tetangga.
“Virus Nipah memang berbahaya karena sifatnya yang agresif dan kemampuan dia bermutasi. Sehingga menyebabkan ada peradangan otak yang parah. Biasanya gejala yang paling kentara itu adalah pernapasan akut,” bebernya.
Baca Juga
- Virus Nipah: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobati
- Waspada Virus Nipah, Dokter Imbau Cuci Buah dan Periksa Kondisinya
- IDAI: Virus Nipah di Indonesia Masih Ditemukan di Kelelawar, Belum Menular ke Manusia
Dirinya menjelaskan masa inkubasi terhadap seseorang yang terjangkit virus tersebut tidak jauh beda dengan Covid-19 yakni 7 hingga 14 hari. Namun, masa inkubasi virus Nipah bisa sampai 45 hari tergantung kondisi imun penderitanya.
“Virus ini menyebabkan gejala secara neurologis itu berat bisa kejang, koma, penularan itu bisa dari manusia ke manusia. Terutama dalam pengaturan perawatan kesehatannya. Kadang mungkin kontak dekat dengan sekresinya pasien itu bisa juga terjadi, jadi memang banyak,” bebernya.
Oleh karena itu, BBKK Surabaya memastikan melakukan pemantauan intensif kepada warga yang tiba dari perjalanan luar negeri ke Bandara Internasional Juanda Sidoarjo sebagai salah satu bentuk pencegahan.
“Yang kita waspadai itu jemaah umrah karena di Arab Saudi itu ada semacam risiko. Di sana banyak jemaah dari India, Bangladesh, dan negara lain,” ucapnya.
Saat jemaah umrah tiba di tanah air melalui Bandara Internasional Juanda Sidoarjo, suhu tubuh mereka akan diperiksa secara ketat. Pemantauan tersebut dilakukan BBKK Surabaya selama 24 jam.
Tak hanya jemaah umrah, penumpang yang tiba dari perjalanan internasional lewat Bandara Juanda pun tak luput dari pemeriksaan. Rosidi menyebut data hasil pemeriksaan akan terintegrasi melalui aplikasi All Indonesia juga terpantau oleh BPLN (Badan Pengurus Luas Negeri).
“Mungkin [penumpang yang diperiksa] dari India, Malaysia, Singapura, Hongkong, tetap kita skrining melalui pemeriksaan suhu tubuh,” bebernya.
Apabila suhu tubuh penumpang terdeteksi melebihi 38 derajat celsius, BBKK akan melakukan pemeriksaan lanjutan dengan proses pengisian data lewat aplikasi All Indonesia hingga proses wawancara.
“Kami tanya apakah anda dalam berapa hari terakhir ini mengunjungi negara-negara yang ditengarai dalam kondisi dari negara berjangkit, dan biasanya itu terdeteksi,” ucapnya.
Lebih lanjut, bila nantinya hasil wawancara dan penemuan gejala merujuk pada keterjangkitan terhadap virus Nipah, maka yang bersangkutan akan dibawa ke klinik atau rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan sampel darah.
“Kita bisa juga merujuk ke rumah sakit kalau seandainya dia mengalami gejala-gejala yang mirip. Kemudian kita periksa, kita ambil sampel darahnya, kemudian kita bawa ke laboratorium,” pungkasnya.




