JAKARTA, KOMPAS.com – Penghulu Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, Muhammad Zidni Ilmi, menjadi sorotan publik setelah video dirinya memimpin prosesi akad nikah menggunakan tiga bahasa viral di media sosial.
Fenomena ini sekaligus menyoroti meningkatnya tren pernikahan campuran serta tuntutan kompetensi global bagi aparatur pelayanan publik.
Dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, @mzilmi, Zidni terlihat memimpin akad nikah pasangan Warga Negara Indonesia (WNI) bernama Anggita dengan seorang pria berkewarganegaraan Jerman bernama Jan.
Baca juga: Tren Pernikahan Campuran Meningkat, Penghulu KUA Setiabudi Kuasai 3 Bahasa
Prosesi berlangsung lancar dengan penggunaan Bahasa Indonesia, Inggris, dan Jerman sebelum ijab kabul dilaksanakan.
Tak hanya memimpin akad, Zidni juga menyampaikan doa agar kedua mempelai menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia.
Saat dikonfirmasi Kompas.com, Senin (2/2/2026), Zidni menceritakan pengalamannya selama bertugas sebagai penghulu.
Ia mengatakan, selain menikahkan pasangan sesama WNI, dirinya juga kerap melayani pernikahan campuran antara WNI dan Warga Negara Asing (WNA) dari berbagai kawasan dunia.
Pria lulusan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir itu mengungkapkan, ia telah menikahkan pasangan WNI dengan WNA dari Eropa, Timur Tengah, hingga Afrika.
"Belum terlalu banyak (menikahkan WNI dengan WNA), sejauh ini WNA yang pernah saya layani (dari) Tanzania (Afrika), Pakistan, Arab Saudi, dan Jerman," ujar Zidni kepada Kompas.com.
Menurut Zidni, kemampuan berbahasa asing yang dimilikinya berawal dari pengalaman belajar di Pondok Pesantren (Ponpes) La Tansa, Banten, serta saat menempuh pendidikan di Mesir.
Baca juga: Cerita Penghulu Zidni Ilmi Nikahkan Pengantin Pakai Tiga Bahasa
Namun, ia menegaskan, bahasa yang dipelajari secara formal hanyalah Bahasa Arab dan Inggris, sementara bahasa lain dipelajarinya secara mandiri.
"Dikatakan fasih sebetulnya tidak, tapi alhamdulillah punya sedikit bekal saat dulu belajar di ponpes dan Al Azhar Mesir, sedikit bisa basic Bahasa Arab dan juga Inggris," jelas Zidni.
"Adapun bahasa lainnya seperti Tanzania (Bahasa Swahili) dan Jerman belajar otodidak untuk menyapa keluarga pengantin saja. Jadi tidak fasih," tuturnya.
Sebuah kiriman dibagikan oleh Muhammad Zidni Ilmi (@mzilmi)
Zidni juga berbagi pengalamannya memimpin ijab kabul pernikahan pasangan WNI dan WNA menggunakan Bahasa Inggris. Menurutnya, hal ini dilakukan untuk mengakomodasi tren pernikahan campuran yang semakin meningkat.
"Untuk ijab kabul dengan bahasa Inggris keduanya atau bahasa Indonesia keduanya," ujar Zidni saat dikonfirmasi Kompas.com, Senin (2/2/2026).
Baca juga: Pernikahan di Tengah Rob di Penjaringan, Penghulu Sampai Digendong ke Tenda





