Tim Investigasi Harian Kompas menemui Nikolas Johan Kilikily (55). Ia pernah aktif di dunia debt collector yang sarat dengan kekerasan. Nikolas kini menjadi Penasihat Umum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya.
Dunia gangster membesarkan nama Nikolas di era 1990-an. Ia dikenal sebagai adik kesayangan Hercules Rosario Marshal, Ketua Umum DPP GRIB Jaya. Kini Nikolas meletakkan parang serta pistol demi menjauhi bisnis kekerasan. Berikut petikan wawancara Kompas dengan Nikolas, Senin (26/1/2026).
Apa yang membuat Anda merantau ke Jakarta?
Saya lahir di Makassar. Papa saya orang Maluku dan mama keturunan Goa. Papa saya, Yusuf Hofni Kilikily, awalnya bekerja sebagai ASN (aparatur sipil negara) di Kantor Wali Kota Makassar. Namun, tahun 1975 dia keluar dari pekerjaan karena berseberangan dengan Gubernur Sulawesi Selatan saat itu. Setelah itu, dia hijrah ke Jakarta dan menjadi lawyer.
Anda anak orang berduit, tetapi kenapa bisa terjun ke dunia gangster?
Sebagai lawyer, karier papa saya bagus. Namun, ia gagal dalam hal rumah tangga. Papa saya istrinya banyak. Kami, anak-anak dia, nyaris tidak mendapat kasih sayang sama sekali.
Papa saya juga salah kasih motivasi ke kami. Papa sering bilang begini ke anak-anaknya, ”Kalau kalian mencuri, membunuh, pakai narkoba, atau memerkosa orang, papa tidak akan bela. Tapi kalau kamu berkelahi untuk membela diri, sampai akhirnya harus membunuh, papa akan bela dan bantu kamu.”
Akhirnya kami semua kelakuannya jadi begitu semua, tukang berkelahi dan segala macam. Saya tujuh bersaudara. Empat anak yang laki-laki menjadi gangster semua. Tiga adik perempuan saya itu suaminya juga gangster.
Bagaimana perjalanan Anda sampai akhirnya menjadi salah satu nama besar gangster di Jakarta?
Tahun 1994, saya ingat persis, tanggal 4 November, pukul 4 sore. Itu masa menjelang KTT APEC di Bogor sehingga Pak Harto perintahkan, tidak boleh ada keributan apa pun karena Bill Clinton (Presiden Amerika Serikat pada saat itu) akan datang ke Indonesia.
Padahal, di saat yang sama, kami harus eksekusi tanah di daerah Jelambar, Jakarta Barat. Ada dua kelompok gangster lain yang menduduki tanah itu. Kami datang dan mencoba bersikap persuasif, tetapi mereka enggak mau. Mereka pilih perang. Mereka serang kami duluan, bawa parang segala macam.
Enggak bisa dielakkan lagi terjadi ribut di situ. Korban jatuh, satu mati di tempat dan empat lagi mati di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Semua yang mati di pihak lawan kami. Saya ditangkap dan ditahan di Polres Jakarta Barat. Tapi itu enggak lama, hanya sekitar satu bulan ditahan.
Mengapa Anda nekat sekali melakukan kejahatan waktu itu?
Waktu itu papa saya lawyer yang bekerja untuk dua wakil presiden di masa pemerintahan Orde Baru. Jadi, saya pikir, papa saya dan jenderal-jenderal yang dia kenal bakal bantu kalau saya masuk penjara. Enggak ada orang yang berani ganggu saya karena semua tahu saya ini adik kesayangan Haji Hercules, tangan kanan Haji Hercules.
Kapan Anda mulai dekat dengan sosok Hercules?
Begitu keluar dari penjara akibat keributan di Jelambar, saya dipanggil sama Haji Hercules. Tapi sebenarnya saya sudah kenal dengan Haji Hercules sejak 1988 waktu beliau masih di bawah, waktu jatah ke beliau masih 500 perak di Tanah Abang.
Setelah saya bergabung dengannya sebagai gangster yang menguasai Tanah Abang, kehidupan saya makin kacau karena tempat itu dikenal sebagai Texas-nya Indonesia. Enggak ada hukum di sana, yang ada cuma hukum rimba. Semua sosok yang akrab dengan kekerasan ada di situ. Jadi, setiap saat, apa pun bisa terjadi, setiap hari gangster di sana bawa parang dan pistol.
Sedekat apa Anda dengan Hercules?
Bisa dibilang saya ini ring setengah, setingkat di atas ring satu.
Pemasukan gangster itu dari mana?
Dari jasa penagihan utang, jaga lahan, kawal judi, dan back up penjualan narkoba. Wilayah kekuasaan kami itu wilayah basah. Dulu kami menguasai Tanah Abang yang merupakan jantungnya Jakarta. Kalau kamu enggak setor hasil jual narkoba, saya enggak mau lihat muka kamu di diskotek mana pun. Tapi saya sering dapat uang besar itu sebetulnya dari penagihan utang.
Sebesar apa pendapatan dari penagihan utang?
Tahun 1993 saya pernah dapat komisi dari menagih utang Rp 2,5 miliar. Itu nilai yang saat itu sangat besar. Sebagai gambaran, mobil Suzuki Carry harganya waktu itu Rp 25 juta.
Dunia penagihan utang dulu kejam sekali. Main kekerasan, main fisik. Kalau kamu enggak bayar, maka cuma ada dua kemungkinan. Kamu masuk rumah sakit atau masuk kuburan.
Jadi, profesi penagihan utang itu dekat dengan dunia gangster?
Dekat sekali karena yang namanya debt collector sudah pasti gangster. Enggak mungkin bukan. Profesi debt collector itu kejam sekali.
Pandangan Anda soal industri jasa penagihan sekarang seperti apa?
Dunia sudah berubah. Bisnis penagihan harus dijalankan dengan benar mengikuti regulasi yang berlaku. Jika itu dilakukan, bisnis penagihan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk banyak orang. Enggak harus dengan mengancam bunuh orang, semua bisa dibicarakan baik-baik.
Salah satu contoh, seorang teman pernah telepon minta tolong ke saya karena dia dikepung 20 penagih. Waktu itu, dia berusaha jual rumah untuk bayar utangnya. Seharusnya ini bisa dibicarakan, tetapi dia tidak diberi kesempatan. Hal seperti itu yang tidak bisa saya benarkan. Akhirnya saya datang untuk bantu teman saya itu. Begitu saya nongol, 20 penagih itu langsung lari kocar-kacir.
Anda punya perusahaan jasa penagihan?
Ada perusahaan jasa penagihan yang resmi, namanya PT Sentinel. Anak saya duduk sebagai direktur utama di situ. Perusahaan itu menangani jasa penagihan apa pun, mulai dari kredit kendaraan yang macet sampai persoalan utang pribadi.
Profesi penagih utang sering diidentikkan dengan orang dari Indonesia timur, benarkah?
Orang dari Indonesia timur datang ke Jakarta untuk cari hidup di perantauan. Mungkin karena orang timur terkenal pemberani, jadi orang sering cari mereka untuk menagih utang. Padahal, banyak juga yang jago nagih dari suku lain. Dari Sumatera dan Sulawesi banyak sekali yang jago. Misalnya, dulu dari Sumatera ada Johny Sembiring, itu juga jago betul.
Memang belakangan lebih banyak muncul tokoh dari Indonesia timur, seperti Milton, Ongky Pieter, Basri Sangaji, dan Haji Hercules, termasuk kami-kami ini. Jadi kami dianggap legend. Image itu terbawa sampai sekarang.
Anda bilang sekarang sudah pensiun dari dunia gangster, apa penyebabnya?
Setiap kali papa tolong saya keluar dari penjara, saya bukannya berubah jadi lebih baik, tetapi justru jadi semakin jahat. Waktu itu, saya bukan hanya tukang kelahi dan bunuh orang, tetapi juga pecandu berat narkoba.
Tahun 1998, saya diminta mengawal pilot yang bekerja untuk penguasa waktu itu. Kami pergi ke salah satu diskotek di Jakarta dan dia memberi saya pil inex (sejenis ekstasi).
Padahal, waktu itu saya habis pakai sabu dan heroin. Tapi saya pikir sayang kalau inex dari luar negeri ini enggak saya pakai. Yang saya enggak tahu, inex dari Belanda ini keras sekali. Kalau yang biasa saya pakai efeknya hanya tiga jam, tapi kalau inex yang pilot itu kasih setengah butir aja on-nya bisa long time.
Singkat cerita, saya overdosis dan dibawa ke rumah sakit. Saya sekarat dan di alam bawah sadar saya lihat semua dosa saya, termasuk orang-orang yang saya bunuh. Waktu itu saya takut luar biasa. Saya pikir bakal mati lalu masuk neraka, tetapi ternyata saat itu belum waktunya bagi saya untuk mati.
Saat itu, saya putuskan harus berhenti dari dunia gangster, dan saya harus benar-benar ikut Tuhan. Saya enggak mau lagi bunuh orang. Saya janji enggak akan bunuh orang lagi.
Bagaimana Hercules menanggapi keputusan Anda berhenti dari dunia gangster?
Haji Hercules sempat beberapa kali cari saya untuk ajak turun perang lawan beberapa gangster. Saya menolak dan dia kecewa sekali. Hubungan kami baru membaik waktu Haji Hercules ditahan di Salemba terkait kasus pemukulan dokter forensik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Dokter itu diduga menghilangkan organ tubuh saat otopsi salah satu rekan kami yang meninggal.
Setiap kali sidang, dia enggak mau naik mobil tahanan. Harus pakai mobil saya, jadi saya jemput di Rutan Salemba, terus bawa pergi sidang ke Pengadilan Negeri Jakarta Barat.
Apakah rekan-rekan gangster Anda juga akhirnya bertobat?
Semua di Grup Hercules sudah bertobat. Enggak bunuh-bunuh orang lagi. Orang-orang harus melihat Haji Hercules yang setiap malam Kamis dan Jumat ngasih makan 500-1000 anak yatim piatu. Itu sudah berlangsung selama 17 tahun.
Enggak selamanya kita harus pegang parang dan pistol. Tanpa dua hal itu, kita bisa hidup asal kita dekatkan diri dengan Tuhan, pasti Tuhan akan bantu.
Apa kesibukan Anda saat ini dan apa rencana ke depan?
Saya aktif sebagai penasihat umum di GRIB Jaya. Selain itu, hanya sebagai lawyer dan mengisi kegiatan rohani. Berusaha meyakinkan preman-preman lain untuk ikut bertobat.
Dua kali saya terjun ke politik, tetapi belum berhasil. Kalau Tuhan izinkan, saya akan coba kembali supaya bisa membantu preman-preman yang sudah bertobat mencari sumber kehidupan yang baru dan baik.
Saya ingin tak ada lagi gangster di Indonesia. Itu kerinduan saya. Caranya, tentu dengan membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Orang melakukan kejahatan itu sebabnya karena mereka lapar dan tidak punya kerja.




