REPUBLIKA.CO.ID, Malam Nisfu Sya’ban sejak lama mendapat perhatian khusus dalam khazanah keilmuan Islam. Meski sejumlah hadis tentang keutamaannya dinilai dhaif, para ulama dari kalangan Syafi’iyyah tetap menganjurkan untuk menghidupkan malam tersebut dengan berbagai amalan.
Imam an-Nawawi (w. 676 H) menyebutkan bahwa kalangan ulama Syafi’iyyah menyunahkan untuk menghidupkan malam Nishfu Sya’ban, meskipun hadisnya dianggap dhaif. Sebagaimana sebutkan Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam kitabnya al-Majmu:
Baca Juga
Hamas Siap Serahkan Kepemimpinan Gaza ke Komite Nasional
Kakorlantas Dorong Pendekatan Humanis
Ustadz Hanif Luthfi dalam bukunya Malam Nishfu Sya'ban' menjelaskan, Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah menyunahkan untuk menghidupkan malam nishfu Sya’ban, meski hadisnya dianggap dhaif. Sebagaimana di awal kitab (al-Majmu’) bahwa hadis dhaif itu tak masalah diamalkan dalam fadhail amal.
Sejumlah umat Islam membaca Alquran surat Yasin pada Malam Nisfu Syaban di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (2/2/2026). Malam Nisfu Syaban momentum spiritual bagi umat Islam untuk muhasabah atau instropeksi diri dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H. - (ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah)
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Salah seorang tabiin bernama Atha’ bin Yasar (w. 103 H) menyebut bahwa malam Nisfu Sya’ban itu malam yang utama setelah lailatul qadar.
Atha’ bin Yasar menyebutkan sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam kitabnya Lathaif al-Ma’arif: Dari Atha’ bin Yasar berkata: Tidak ada satu malam setelah Lailatul Qadar yang lebih mulia daripada malam nishfu Sya’ban. Karena itu, amalan para salaf dalam rangka memuliakan malam Nisfu Sya’ban akan dengan mudah ditemukan.
Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam kitabnya Lathaif al-Ma’arif menceritakan bahwa dahulu para ulama salaf dari kalangan tabi'in di Syam bersungguh-sungguh dalam ibadah pada malam nishfu Sya’ban. Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) menyebutkan: