Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras pada Senin kemarin jika perundingan dengan Iran tidak membuahkan hasil. Ia Trump mengatakan bahwa “kemungkinan hal-hal buruk akan terjadi” jika tidak tercapai kesepakatan.
“Kami memiliki kapal-kapal yang sedang menuju Iran saat ini. Kapal besar, yang terbesar dan terbaik. Kami sedang melakukan pembicaraan dengan Iran. Kita lihat saja bagaimana hasilnya,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
“Namun saat ini, kami sedang berbicara dengan mereka. Kami berbicara dengan Iran, dan jika kami bisa mencapai sesuatu, itu akan sangat bagus. Dan jika tidak, kemungkinan hal-hal buruk akan terjadi," lanjutnya, dilansir dari Anadolu Agency, Selasa, 3 Februari 2026.
Pada Juni 2025, Israel yang didukung AS melancarkan serangan selama 12 hari terhadap fasilitas militer dan nuklir serta infrastruktur sipil Iran, menewaskan sejumlah komandan senior serta ilmuwan. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke fasilitas militer dan intelijen Israel, sebelum kemudian Amerika Serikat melakukan gelombang serangan terhadap lokasi nuklir Iran.
Dalam beberapa hari terakhir, terjadi aktivitas diplomatik intens dengan sejumlah negara kawasan, termasuk Turki, yang turut melakukan intervensi untuk meredakan ketegangan antara kedua negara.
Kantor berita Axios melaporkan pada Senin bahwa utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi diperkirakan akan menggelar perundingan di Istanbul pada Jumat mendatang sebagai bagian dari upaya diplomatik baru terkait program nuklir Iran. Ketegangan Kawasan Mengutip sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, laporan itu menyebutkan bahwa persiapan pertemuan sedang berlangsung, meski sumber lain memperingatkan bahwa rencana tersebut masih bersifat dinamis dan belum difinalisasi.
Rencana perundingan ini muncul setelah Trump pekan lalu mengatakan bahwa sebuah “armada besar” sedang bergerak menuju Iran sambil mendesak Teheran untuk segera masuk ke meja perundingan. Ia kemudian menyatakan bahwa Iran tengah “serius berbicara” dengan Amerika Serikat.
Presiden AS itu juga mengancam aksi militer terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan menyusul aksi protes anti-pemerintah di Iran yang dimulai pada akhir Desember, setelah runtuhnya nilai rial, lonjakan inflasi, dan memburuknya kondisi hidup.
Para pejabat Iran memperingatkan bahwa setiap serangan Amerika Serikat akan dibalas dengan respons yang “cepat dan menyeluruh.”
Sementara itu, laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Türkiye, Mesir, dan Qatar memainkan peran sentral dalam memfasilitasi kontak antara Washington dan Teheran dalam beberapa hari terakhir.
Araghchi melakukan perjalanan ke Istanbul pada Jumat lalu dan menggelar pembicaraan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan serta Menteri Luar Negeri Hakan Fidan.
Meski tidak ada pernyataan resmi yang dirilis, Tasnim News Agency melaporkan bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah mengeluarkan perintah untuk melanjutkan kembali perundingan nuklir dengan Amerika Serikat, dengan melibatkan pejabat senior dari kedua negara.
Baca juga: Trump Optimistis Capai Kesepakatan dengan Iran Meski Ancaman Perang Menguat



