Jakarta, tvOnenews.com – Harga emas dunia melemah tajam pada perdagangan terbaru, namun kondisi tersebut justru dimanfaatkan warga Singapura untuk memborong emas batangan. Pada Selasa (3/2/2026), antrean panjang terlihat di sejumlah bank dan gerai emas di Negeri Singa, menunjukkan tingginya minat beli investor ritel meski harga global sedang terkoreksi.
Berdasarkan penutupan perdagangan di New York, Amerika Serikat, harga emas turun 3,15 persen atau 163,65 poin ke level USD 4.730,58 per troy ounce. Penurunan ini menjadi pembalikan arah setelah emas mencatat reli kuat sepanjang bulan lalu.Meski demikian, situasi di Singapura justru berbanding terbalik. Para pembeli memadati ruang transaksi emas batangan di kantor pusat United Overseas Bank (UOB), satu-satunya bank milik negara yang menyediakan layanan pembelian emas fisik bagi investor ritel.
Antrean Panjang di Bank hingga Toko EmasSejak pagi, antrean sudah mengular di kantor pusat UOB. Banyak nasabah datang tanpa pre-order dan harus menunggu berjam-jam untuk dilayani. Sejumlah produk emas batangan bahkan dilaporkan habis terjual sebelum siang hari.
“Saya datang karena harga emas turun hari ini,” ujar Ng Beng Choo, seorang pensiunan berusia 70-an tahun. Ia tiba di bank sekitar pukul 09.30 pagi, namun baru dipanggil lebih dari enam jam kemudian.
Pihak UOB memasang pengumuman di area kantor pusat yang menyebutkan bahwa seluruh tiket antrean pembelian emas telah habis karena permintaan yang sangat tinggi. Produk emas batangan merek MKS PAMP SA, salah satu produsen ternama dunia, juga dilaporkan ludes terjual.
Fenomena serupa juga terjadi di Australia. Di Sydney, antrean pembeli emas terlihat mengular hingga ke jalan di depan gerai ABC Bullion dekat Martin Place.
“Saya kehilangan banyak uang pada Jumat, tapi besok adalah hari yang baru,” kata Alex, pria berusia 20-an tahun yang ikut mengantre untuk membeli emas batangan.
Harga Turun, Minat Beli Justru NaikHarga emas global sebelumnya melonjak sepanjang Januari 2026, dipicu ketegangan geopolitik serta ketidakpastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat, termasuk sikap Presiden AS Donald Trump terhadap Federal Reserve (The Fed). Namun, reli tersebut berbalik arah sejak Jumat (30/1) lalu dan terus melemah hingga perdagangan Selasa.



