Indonesia Bakal Terdampak Risiko Suhu Panas Ekstrem Tahun 2050: Riset Oxford

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Riset terbaru dari Universitas Oxford, Inggris, menemukan bahwa hampir separuh populasi global akan hidup dengan suhu panas ekstrem pada tahun 2050 jika Bumi mencapai pemanasan global 2,0 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri, di mana ilmuwan berpendapat skenario ini semakin mungkin terjadi.

Dalam riset yang diterbitkan di jurnal Nature Sustainability pada 26 Januari 2026, para peneliti Universitas Oxford memperingatkan, pemanasan global akan memberi implikasi serius bagi masyarakat di negara tropis.

Republik Afrika Tengah, Nigeria, Sudan Selatan, Laos, dan Brasil, diprediksi akan mengalami peningkatan suhu panas yang paling signifikan dan berbahaya, sementara populasi yang paling terdampak akan berada di India, Nigeria, Indonesia, Bangladesh, Pakistan, dan Filipina.

Negara-negara dengan iklim yang lebih dingin akan mengalami perubahan relatif, di mana mereka perlu beradaptasi dengan hari-hari yang lebih panas dalam rentang lebih panjang. Pemanasan di sana bahkan bisa meningkat lebih dari dua kali lipat dalam beberapa kasus.

Dibandingkan dengan periode 2006–2016, ketika peningkatan suhu rata-rata global mencapai 1°C di atas tingkat pra-industri, studi ini menemukan bahwa pemanasan hingga 2°C akan menyebabkan peningkatan dua kali lipat di Austria dan Kanada, 150% di Inggris, Swedia, Finlandia, 200% di Norwegia, dan peningkatan 230% di Irlandia.

Penulis utama riset ini, Dr. Jesus Lizana, Profesor Madya Ilmu Rekayasa di Universitas Oxford, mengatakan, temuan ini menjadi peringatan bahwa bila Bumi melebihi batas pemanasan 1,5 derajat Celcius akan berdampak luar biasa pada segala hal, mulai dari pendidikan dan kesehatan hingga migrasi dan pertanian.

Sebagian besar dampak itu bisa terasa lebih awal ketika Bumi melewati target pemanasan global 1,5 derajat Celcius yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris (Paris Agreement). Pada tahun 2010, 23 persen populasi dunia telah hidup dalam suhu ekstrem, dan angka ini diperkirakan meningkat menjadi 41% dalam beberapa dekade mendatang.

Permintaan tinggi atas sistem pendinginan dan pemanasan membutuhkan langkah-langkah mitigasi yang signifikan, dan harus diterapkan sejak ini. Ke depan, banyak rumah mungkin perlu memasang pendingin udara dalam lima tahun ke depan, tetapi suhu akan terus meningkat jauh setelah itu jika Bumi mencapai pemanasan global 2,0 derajat Celcius.

Para ilmuwan mendorong agar para politisi dan pemerintah bisa melakukan intervensi signifikan untuk mencegah pemanasan global.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Daftar Tim Peserta AVC Cup 2026: Ada Timnas Voli Indonesia, Megawati Hangestri Cs Kembali Beraksi
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Ketua PBSI Kota Madiun Rahma Noviarini Klarifikasi Penggeledahan KPK, Tegaskan Hormati Proses Hukum
• 20 jam lalurealita.co
thumb
Tim Perintis Polres Depok Bantu Mediasi Ibu-ibu yang Motornya Diambil Matel
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Inflasi Sumsel Januari 2026 Meroket 3,33% YoY
• 15 jam lalubisnis.com
thumb
Polairud Sergap Kapal Bermuatan Beras Ilegal di Pantai Timur Jambi
• 21 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.