Pemprov DKI Jakarta menargetkan penyelesaian pembangunan Sistem Tata Air Pompa Daan Mogot, Jakarta Barat, pada 2027 mendatang.
Proyek pengendalian banjir yang sudah direncanakan sejak 2022 ini kembali dikebut untuk mengatasi genangan kronis di kawasan Jalan Daan Mogot, khususnya di KM 13.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, kawasan Daan Mogot menjadi salah satu titik banjir paling rawan karena posisi jalan berada di bawah permukaan Kali Mookervart. Kondisi tersebut membuat genangan mudah terjadi meski curah hujan tidak terlalu tinggi.
“Kenapa selalu banjir? Karena jalannya di bawah permukaan Sungai Mookervart. Jadi diapakan saja, kalau kemudian hujan, curah hujan enggak perlu sampai dengan 200, 100 saja tempat ini pasti sudah banjir,” kata Pramono saat meninjau lokasi Proyek Pembangunan Sistem Tata Air Pompa Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa (3/2).
Untuk penanganan jangka pendek, Pemprov DKI akan membangun pompa stasioner di tiga titik, yakni KM 13, KM 13A, dan KM 13B. Pompa ini menggantikan sistem pompa mobile yang selama ini dinilai tidak optimal.
“Kalau dulu di tempat ini hanya ada kurang lebih 1.000 liter per detik, dan itu pun mobile. Sekarang dengan pompa yang stasioner yang tetap akan ada di sini, kapasitasnya menjadi tujuh kali, kurang lebih 7.000 liter per detik,” ujar Pramono.
Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum, menjelaskan, proyek sistem pompa Daan Mogot merupakan bagian dari penanganan banjir terpadu di Jakarta Barat dan Jakarta Utara yang kini menjadi dua titik krusial banjir di Ibu Kota.
“Jadi memang seperti yang saya laporkan kepada Bapak, titik krusial banjir di Jakarta ini sekarang dua, Pak. Jakarta Utara dan di Jakarta Barat. Ini yang harus kita prioritaskan dan mendapatkan perhatian khusus dari kita semua,” kata Ika.
Di sepanjang Jalan Daan Mogot, terdapat lima titik rawan banjir, dengan KM 13 sebagai titik paling krusial. Untuk itu, Pemprov DKI akan membangun rumah pompa permanen dengan total kapasitas sekitar 11,5 meter kubik per detik.
"Dari lima titik itu, kita akan bangun pompa, dari mulai Pompa Depag, kemudian Rumah Pompa 13, 13A, dan 13B. Di mana catchment-nya adalah kurang lebih di Kedaung Angke dan Cengkareng Timur. Total kapasitas dari rumah pompa ini adalah kurang lebih 11,5 meter kubik per detik, Pak," ujarnya.
Ika menambahkan, proyek ini sebenarnya sudah dimulai sejak 2022 melalui pembangunan saluran crossing jalan. Namun, pengerjaan tersebut terhenti karena penyedia jasa dinilai tidak memenuhi kualifikasi.
“Mohon maaf Pak Gubernur, memang penyedianya kurang qualified Pak, sehingga kami blacklist di tahun 2022,” kata Ika.
Dalam pengembangan lanjutan ini, Pemprov DKI juga akan membangun crossing jalan, pintu air, rumah pompa, genset, hingga gardu PLN. Proses pengerjaan diperkirakan berlangsung hingga Desember 2027 karena adanya keterbatasan teknis, salah satunya keberadaan jaringan SUTET di sekitar lokasi.
“Jadi pekerjaan ini memang membutuhkan waktu sampai dengan Desember 2027,” ujar Ika.
Pramono menegaskan, penyelesaian proyek Daan Mogot menjadi tanggung jawabnya sebagai gubernur, terutama karena proyek tersebut sudah lama terbengkalai.
“Jadi proyek ini mungkin memang sudah menjadi tugas saya untuk menyelesaikan yang enggak selesai-selesai, termasuk di tempat ini dari tahun 2022. Mudah-mudahan tahun 2027 selesai secara keseluruhan mengatasi banjir,” kata Pramono.
Selain sistem pompa, Pemprov DKI juga mempertimbangkan pembangunan flyover sebagai solusi jangka menengah hingga panjang untuk mengatasi banjir dan kemacetan di kawasan Daan Mogot.
“Kalau mau jangka panjang, saya akan suruh ngitung untuk dibuatkan flyover-nya,” pungkas Pramono.



