EtIndonesia. Sembilan hari telah berlalu sejak otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengumumkan kasus yang menimpa Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC). Namun alih-alih mereda, situasi justru berkembang ke arah yang semakin tidak biasa.
Dalam kurun waktu sembilan hari terakhir, ruang publik Tiongkok—baik di media sosial domestik maupun platform luar negeri—dibanjiri berbagai rumor, spekulasi, dan analisis. Di antara semua itu, terdapat satu fenomena yang hampir disepakati oleh banyak pengamat: pergerakan pasukan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) secara serempak dan berskala besar di berbagai wilayah Tiongkok.
Pergerakan Militer Terekam di Banyak Provinsi
Berdasarkan puluhan video dan rekaman lapangan yang beredar luas di internet sejak akhir Januari hingga awal Februari 2026, terlihat aktivitas militer yang tidak lazim di sejumlah provinsi dan kota besar.
Di wilayah Yixing (Provinsi Jiangsu), Xuzhou, dan Taizhou, terekam iring-iringan kendaraan yang diduga kuat merupakan peluncur rudal, tank, serta kendaraan lapis baja, bergerak melalui jalan tol utama dengan arah dominan menuju utara.
Sementara itu, di wilayah selatan dan timur Tiongkok—termasuk Guangdong, Fujian, Anhui, Shandong, Mongolia Dalam, Tianjin, serta kawasan Changping, Beijing—terlihat aktivitas intensif kendaraan militer yang ditutup terpal kamuflase, kendaraan pengangkut pasukan, kendaraan teknik militer, hingga helikopter tempur yang terbang rendah.
Beberapa rekaman bahkan menunjukkan tentara bersenjata lengkap turun langsung ke jalan, disertai pengumpulan pasukan sementara pada malam hari serta penutupan ruas-ruas jalan tertentu—langkah yang umumnya hanya dilakukan dalam kondisi keamanan tingkat tinggi.
Konvoi Besar di Guangxi Dini Hari 2 Februari
Pada dini hari 2 Februari 2026, sebuah video yang direkam oleh warganet di Pingnan, Guangxi memperlihatkan iring-iringan panjang truk militer melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya, menambah kekhawatiran publik akan adanya operasi berskala nasional.
Data terbuka menunjukkan bahwa Guangxi merupakan basis utama Angkatan Darat Grup ke-74 dan ke-75, yang berada di bawah Komando Wilayah Selatan PLA—salah satu komando paling strategis dalam struktur militer Tiongkok.
Pertanyaan Kritis: Siapa yang Memberi Perintah?
Rangkaian mobilisasi lintas wilayah ini memunculkan pertanyaan mendasar di kalangan analis militer dan politik:
Bagaimana mungkin mobilisasi militer berskala besar dapat terjadi, sementara hingga kini tidak ada satu pun komando wilayah atau matra militer yang secara terbuka menyatakan dukungan kepada Xi Jinping?
Pertanyaan ini semakin tajam mengingat Xi Jinping secara formal masih menjabat sebagai Ketua CMC. Namun, absennya pernyataan loyalitas terbuka dari struktur militer justru menimbulkan dugaan bahwa kendali nyata atas PLA sedang berada dalam kondisi tidak normal.
Analisis Mantan Perwira AL: Xi Tak Lagi Mengendalikan Militer
Pada 2 Februari 2026, Yao Cheng, mantan perwira Angkatan Laut PKT berpangkat Letnan Kolonel, mengunggah sebuah video analisis yang segera menarik perhatian luas.
Dalam pemaparannya, Yao Cheng menegaskan bahwa:
- Mobilisasi pasukan secara serempak di berbagai wilayah tidak mungkin terjadi tanpa koordinasi tingkat tinggi,
- dan hampir mustahil merupakan perintah langsung Xi Jinping.
Menurut Yao, selama bertahun-tahun Xi Jinping melakukan pembersihan internal besar-besaran di tubuh militer, yang justru memicu kejenuhan dan perlawanan diam-diam di kalangan perwira. Akibatnya, Xi dinilai telah kehilangan kemampuan efektif untuk mengendalikan militer.
Dugaan Rencana Darurat Zhang Youxia
Lebih jauh, Yao Cheng memperkirakan bahwa Zhang Youxia sebenarnya telah lama mengetahui rencana Xi untuk menyingkirkannya. Oleh karena itu, dia menduga bahwa rangkaian pergerakan lintas komando ini merupakan rencana darurat (contingency plan) yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh Zhang dan jaringan pendukungnya di dalam militer.
Menurut Yao, saat ini wilayah sekitar Beijing pada dasarnya telah berada dalam kondisi pengepungan militer, dengan rincian sebagai berikut:
- Angkatan Darat Grup ke-79 dari Komando Wilayah Utara telah bergerak ke arah selatan,
- Angkatan Darat Grup ke-80 dari Shandong juga telah dikerahkan,
- Dari Komando Wilayah Tengah, Grup ke-81, ke-82, dan ke-83 dilaporkan telah melakukan pergerakan.
“Semua Jalur Mundur Ditutup”
Dalam kesimpulannya, Yao Cheng menyatakan bahwa: “Seluruh jalur mundur Xi Jinping pada dasarnya telah ditutup. Militer tidak akan membiarkannya melarikan diri.”
Dia bahkan membandingkan situasi ini dengan strategi pengepungan total yang biasa digunakan PLA dalam rencana operasi militer terhadap Taiwan, di mana seluruh jalur darat, udara, dan logistik dikunci secara simultan.
Situasi Masih Berkembang
Hingga 2 Februari 2026, belum ada pernyataan resmi tambahan dari pemerintah Tiongkok maupun Komisi Militer Pusat yang menjelaskan secara terbuka tujuan mobilisasi lintas wilayah tersebut. Namun, skala dan sinkronisasi pergerakan militer ini membuat banyak pengamat menilai bahwa Tiongkok tengah berada pada salah satu momen paling sensitif dalam sejarah politik-militernya dalam satu dekade terakhir.
Perkembangan selanjutnya diperkirakan akan menjadi penentu arah kekuasaan di Beijing—dan berpotensi berdampak jauh melampaui batas Tiongkok sendiri.




