REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa (3/2/2026), bergerak menguat 36 poin atau 0,21 persen menjadi Rp 16.762 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.798 per dolar AS. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan sinyal bahwa tekanan harga jangka pendek mulai mereda.
“Rilis BPS soal inflasi memberi sinyal bahwa tekanan harga jangka pendek mereda karena Januari 2026 mengalami deflasi bulanan 0,15 persen, terutama dipicu turunnya harga pangan seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras,” kata dia di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
- Tak Lagi Sepenuhnya ke AS, Inggris Teken Kerja Sama Ratusan Triliun Rupiah dengan China
- Saat IHSG Anjlok, Rupiah Diproyeksi Menguat karena Ketidakpastian The Fed
- Rupiah Menguat, Pengamat: Pasar Respons Positif Kebijakan Purbaya
Menurut dia, rilis tersebut cenderung menenangkan pasar karena risiko lonjakan harga dalam waktu dekat mengecil. Pada saat yang sama, lanjutnya, laporan BPS tersebut juga dapat membatasi penguatan rupiah karena pasar membaca ruang kebijakan suku bunga ke depan menjadi lebih longgar.
Di sisi lain, inflasi tahunan tetap berada di level 3,55 persen, dengan pendorong utama berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil 1,72 persen. Oleh karena itu, rilis ini dinilai bukan sinyal bahwa inflasi telah benar-benar hilang, melainkan lebih mencerminkan normalisasi setelah faktor musiman.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Di luar faktor inflasi, fondasi eksternal Indonesia masih terbantu oleh surplus perdagangan. Pada periode Januari–Desember 2025, surplus tercatat sebesar 41,05 miliar dolar AS, sementara pada Desember 2025 tercatat surplus 2,51 miliar dolar AS. Kondisi tersebut menambah pasokan valas dari ekspor dan menjadi penyangga bagi nilai tukar rupiah.
“Jadi, rilis BPS tadi siang memang ikut membentuk sentimen, tetapi dampaknya biasanya lebih halus lewat perubahan ekspektasi arah suku bunga dan persepsi stabilitas harga, bukan sebagai pemicu utama gerak intrahari,” ujarnya.
Dari sisi global, Josua menilai tekanan yang lebih kuat datang dari dinamika dolar AS, penurunan tajam harga komoditas, serta sikap kehati-hatian pelaku pasar menjelang sejumlah agenda penting pada pekan ini.
“Dolar AS sempat menguat ketika harga emas dan perak melemah, lalu penguatannya memudar setelah pembukaan pasar Eropa. Pasar juga menunggu keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa dan Bank Sentral Inggris, laporan tenaga kerja Amerika Serikat, serta berbagai laporan kinerja perusahaan, sehingga pelaku pasar cenderung cepat mengurangi risiko,” ungkap Josua.



