BMKG Paparkan Data Hilal Jelang Sidang Isbat Ramadan 1447 H

tvrinews.com
6 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Nisa Alfiani

TVRINews, Jakarta

Kementerian Agama akan menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah melalui sidang isbat yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 17 Februari 2026. Menjelang sidang tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan analisis astronomi terkait peluang kemunculan hilal di Indonesia.

BMKG menyampaikan bahwa peristiwa konjungsi atau ijtima’ penanda awal siklus bulan baru akan terjadi pada malam hari, setelah matahari terbenam.

“Konjungsi geosentrik terjadi ketika bujur ekliptika Bulan dan Matahari bernilai sama dengan pengamat diasumsikan berada di pusat Bumi,” tulis BMKG dalam dokumen prakiraan hilal yang dirilis awal Februari 2026, Selasa (3/2/2026).

BMKG mencatat konjungsi berlangsung pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB. Dengan waktu tersebut, posisi Bulan pada saat matahari terbenam di hari yang sama masih berada di bawah ufuk di seluruh wilayah Indonesia.

Berdasarkan perhitungan BMKG, ketinggian hilal pada 17 Februari 2026 berkisar antara minus 2,41 derajat hingga minus 0,93 derajat. Kondisi ini membuat hilal belum memungkinkan untuk diamati.

Situasi berubah pada keesokan harinya. Saat matahari terbenam pada 18 Februari 2026, posisi Bulan diperkirakan sudah berada cukup tinggi, dengan ketinggian antara 7,62 derajat hingga 10,03 derajat di berbagai wilayah Indonesia.

“Secara astronomis, rukyat hilal penentu awal Ramadan 1447 H baru dapat dilakukan setelah matahari terbenam pada 18 Februari 2026,” tulis BMKG.

Selain ketinggian, BMKG juga menyoroti elongasi Bulan terhadap Matahari. Pada 18 Februari 2026, nilai elongasi di Indonesia diperkirakan berada pada rentang 10,7 derajat hingga 12,21 derajat, jauh di atas batas minimal kriteria imkanur rukyat.

BMKG turut memastikan bahwa tidak terdapat objek astronomis lain di sekitar Bulan yang berpotensi mengganggu proses pengamatan hilal pada tanggal tersebut.

Sementara itu, Kementerian Agama menegaskan bahwa penetapan awal Ramadan tetap akan dilakukan melalui mekanisme sidang isbat. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, mengatakan pemerintah mengedepankan pendekatan integratif dalam penentuan awal bulan Hijriah.

“Pemerintah mengombinasikan data hisab dengan hasil rukyatulhilal sebagai bentuk upaya merangkul perbedaan metode yang berkembang di tengah masyarakat,” ujar Abu Rokhmad.

Sidang isbat akan dihadiri perwakilan ormas Islam, pakar falak, serta lembaga astronomi nasional, termasuk BMKG dan BRIN. Hasil sidang tersebut nantinya menjadi dasar resmi penetapan awal puasa di Indonesia.

Indonesia sendiri mengacu pada kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yang mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Dengan mengacu pada data BMKG, awal Ramadan 1447 Hijriah secara astronomis berpeluang dimulai pada 18 Februari 2026. Namun, pemerintah menegaskan keputusan final tetap menunggu hasil sidang isbat Kementerian Agama.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Profesionalitas saat dibentak dan diremehkan, curhat Choky Sitohang hadapi sikap arogan oknum pejabat
• 18 jam lalubrilio.net
thumb
Komplotan Pencurian Lintas Kabupaten di Sulsel Diciduk, Puluhan Motor Diamankan
• 1 jam lalueranasional.com
thumb
Sinopsis Film Ahlan Singapore, Cinta Segitiga Antara Rebecca Klopper, Kiesha Alvaro, dan Ibrahim Risyad di Negeri Singa
• 8 jam lalugrid.id
thumb
Rayakan Dekade Pertama, Crunchyroll Anime Awards 2026 Siap Digelar di Tokyo
• 9 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Lebih Ganas dari COVID-19, Menakar Kesiapan Indonesia Hadapi Virus Nipah yang Mematikan
• 21 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.