JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Tjandra Yoga Aditama menyatakan prevalensi perokok di Indonesia masih menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara.
Angka tersebut berdasarkan publikasi SouthEast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) berjudul “Status Of Tobacco Products In 2026 In ASEAN." Menurut publikasi tersebut, rokok yang terjual di Indonesia mencapai 320 milia batang per tahun.
"Perdagangan rokok di ASEAN masih didominasi dengan sigaret/rokok biasa, dan ini dipicu dengan tingginya prevalensi merokok di negara kita Indonesia, bersama dengan Filipina dan Vietnam," kata Tjandra dalam keterangan pada Selasa (3/2/2026).
Baca Juga: BRIN Ungkap Kadar Zat Berbahaya pada Vape Jauh Lebih Rendah Dibanding Rokok Biasa
Dalam publikasi tersebut, tercatat ada 700 miliar batang rokok yang terjual sepanjang 2024 di ASEAN. Indonesia mencatatkan angka konsumsi tertinggi, disusul Filipina (90 miliar batang) dan Vietnam (80 miliar).
"Data 2024 itu penjualan rokok di kawasan ASEAN masih cukup tinggi, dan secara spesifik ditulis bahwa ini terjadi di negara dengan prevalensi merokok tinggi dan aturan pasar yang kurang kuat (lesser-regulated markets), seperti oleh laporan ini disebut terjadi di negara kita Indonesia dan juga Filipina," kata Tjandra dikutip Antara.
Selain rokok sigaret, publikasi tersebut juga menyoroti peredaran rokok elektronik di ASEAN. Peredaran rokok elektronik disebut telah mencapai 760 juta dolar AS per 2024 dan diperkirakan terus bertambah tanpa regulasi yang tegas.
Tjandra menyampaikan dalam publikasi SEATCA menyebutkan bahwa sudah ada tujuh negara ASEAN yang melarang dan ada aturan amat ketat tentang rokok elektrik dan HTP (heated tobacco products).
SEATCA berharap Indonesia, Malaysia, dan Filipina mengikuti langkah negara ASEAN lain untuk melarang penjualan produk nikotin untuk rekreasi tersebut.
"Karena kebiasaan merokok jelas berpengaruh buruk bagi kesehatan, sehingga perlu ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menjaga kesehatan anak bangsa kita agar terhindar dari bahaya buruk asap rokok, apalagi menyongsong Indonesia Emas di 2045 kelak," kata Tjandra.
Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Gading-Persada
Sumber : Antara
- prevalensi perokok
- angka perokok di indonesia
- perhimpunan dokter paru
- konsumsi rokok
- indonesia




