JAKARTA, KOMPAS.com – Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus sejatinya adalah oase bagi ribuan anak Jakarta dari keluarga kurang mampu, menjamin akses pendidikan melalui SPP, uang saku, dan sembako bersubsidi.
Namun, di balik janji manis tersebut, terkuak praktik gelap yang menghancurkan harapan, yakni jeratan rentenir yang memanfaatkan KJP sebagai jaminan pinjaman, demi menyambung hidup di ibu kota yang kejam.
Kompas.com menelusuri praktik gadai KJP, menemukan kisah pilu para orang tua yang terpaksa menggadaikan masa depan pendidikan anak demi bertahan dari kelaparan.
Baca juga: Maraknya Praktik Gadai KJP, Jalan Pintas Warga Bertahan di Tengah Impitan Ekonomi
Terjebak "Gali Lubang Tutup Lubang"
Ila (bukan nama sebenarnya, 37), warga Jakarta Selatan, adalah salah satu dari sekian banyak orang tua yang terpaksa melakoni praktik gadai KJP.
Sejak putra sulungnya masih SD hingga kini beranjak SMP, KJP sang anak menjadi satu-satunya jaminan pinjaman ke rentenir.
"Pendapatan suami sebagai pekerja serabutan tak menentu, kebutuhan sehari-hari sering tak tercukupi. Kami terpaksa 'gali lubang tutup lubang' agar bisa bertahan di Jakarta," tutur Ila dengan suara bergetar, Senin (26/1/2026).
Mencari pinjaman tanpa jaminan di Jakarta adalah misi mustahil bagi Ila. Tanpa aset berharga, KJP anaknya menjadi "barang berharga" satu-satunya yang bisa ditawarkan.
Namun, prosesnya tidak semudah itu. Para rentenir justru memanfaatkan desakan kebutuhan dengan memeras.
"Kalau mau gadai KJP juga kayak orang mengemis, kayak nanti aja nanti balik lagi besok," kenang Ila.
Di Pasar Rumput, lokasi praktik gadai ini, bahkan tak jarang ia harus "menyogok" rentenir dengan beras atau minyak senilai Rp 100.000 hanya agar KJP-nya diterima sebagai jaminan pinjaman.
Baca juga: Pengakuan Warga Jakarta Gadai KJP Anak ke Rentenir: Terdesak Ekonomi hingga Kebablasan
Modus dan Bunga "Mencekik" Para Lintah Darat
Besaran pinjaman dari rentenir berbeda-beda tergantung jenjang pendidikan KJP.
Untuk SD sekitar Rp 250.000, SMP Rp 300.000, SMA Rp 420.000, dan SMK Rp 450.000 per bulan.
Maksimal pinjaman untuk KJP SD sebesar Rp 1 juta, dan KJP SMP- SMK sebesar Rp1.500.000.
Ila membeberkan dua cara pembayaran pinjaman. Perbedaannya terletak pada apakah utang pokoknya berkurang atau tidak: