Stadion Nimibutr, Patumwan, menjadi saksi bisu kembalinya dominasi bulu tangkis Indonesia di kancah internasional pada Minggu (1/2/2026) lalu. Ajang Thailand Masters 2026 yang merupakan bagian dari rangkaian BWF World Tour Super 300, berakhir dengan catatan emas bagi skuad Merah Putih.
Dengan mengamankan empat gelar juara dan dua posisi runner-up, Indonesia tidak hanya membawa pulang trofi, tetapi juga memancarkan pernyataan tegas mengenai keberhasilan program regenerasi atlet yang telah dicanangkan PP PBSI sejak setahun silam.
Di balik angka-angka kemenangan tersebut, terselip kisah-kisah emosional dari para atlet; mulai dari debutan yang langsung naik podium, hingga para senior yang berhasil menemukan kembali “api” kompetisinya setelah sempat meredup. Turnamen ini menjadi indikator penting bagi arah pembinaan bulu tangkis nasional sebelum memasuki tahun krusial kualifikasi Olimpiade.
Ubed: Mentalitas Baja di Tengah Kepungan Tuan Rumah
Sektor tunggal putra menjadi salah satu yang paling dramatis sekaligus memberikan harapan baru. Muhammad Zaki Ubaidillah, atau yang akrab disapa Ubed, berhasil menumbangkan wakil tuan rumah, Panitchaphon Teeraratsakul, melalui drama rubber game yang melelahkan: 21-19, 20-22, dan 21-19.
Pertandingan ini bukan sekadar adu teknik, melainkan uji ketahanan mental bagi Ubed yang harus menghadapi tekanan ganda: lawan yang ulet di lapangan dan riuhnya ribuan pendukung Thailand yang memadati tribun.
“Sangat luar biasa senang, campur aduk rasanya dan gak nyangka bisa juara,” ujar Ubed dengan mata berkaca-kaca usai laga. Ia mengakui sempat kehilangan ritme di gim pertama akibat tekanan tuan rumah. Namun, instruksi pelatih di pinggir lapangan menjadi jangkar bagi ketenangannya. Pelatih terus mengingatkan untuk menjaga fokus karena sebelum poin menyentuh angka 21, segala kemungkinan masih bisa terjadi.
Alih-alih tertekan oleh atmosfer stadion, Ubed justru merasa terpacu. “Untuk pendukung lawan cukup ramai hari ini, namun itu malah bikin saya tambah semangat. Karena lawan tuan rumah pastinya tidak mau kalah juga,” tambahnya.
Kemenangan ini ia persembahkan untuk keluarga, PBSI, dan klub asalnya, PB Djarum. Bagi Ubed, gelar Super 300 ini adalah batu loncatan besar setelah sebelumnya sukses di level Super 100 dan meraih perak SEA Games. Targetnya kini semakin jelas: menembus peringkat Top 15 dunia pada akhir 2026 agar memiliki posisi tawar yang kuat saat kualifikasi Olimpiade 2028 dimulai pada Mei 2027.
Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti Pebulu tangkis ganda putri Indonesia menjuarai Thailand Masters 2026 di Nimibutr Stadium, Patumwan, Thailand, Minggu (1/2/2026). Foto PBSIGanda Putri: Debut Emas Fadia/Tiwi
Kejutan besar lainnya datang dari sektor ganda putri melalui pasangan baru Siti Fadia Silva Ramadhanti dan Amallia Cahaya Pratiwi. Hanya butuh dua turnamen bagi mereka untuk berdiri di podium tertinggi sejak dipasangkan.
Meskipun mereka baru saja memulai debut pekan lalu di Indonesia Masters, chemistry keduanya terlihat sangat solid di Bangkok. Namun, final lawan Bao Li Jing/Li Yi Jing asal China yang dimenangkan dengan skor 15-21, 21-15, dan 21-18 itu, tetap menyisakan catatan teknis yang mendalam.
“Pertandingan hari ini di game awal kami buru-buru mainnya dan lawan pun sudah dapat pola mainnya, kami banyak eror,” aku Amallia Cahaya Pratiwi atau Tiwi.
Beruntung, prinsip pantang menyerah membuat mereka mampu membalikkan keadaan di gim berikutnya. Bagi Siti Fadia, kemenangan ini memiliki rasa yang spesial karena ia berhasil mempertahankan gelar juara di turnamen yang sama dengan pasangan berbeda (sebelumnya bersama Lanny Tria Mayasari).
Fadia mendedikasikan gelar ini untuk jajaran pelatih ganda putri, Coach Karel dan Coach Nitya. “Semoga hasil ini bisa memacu teman-teman untuk lebih percaya diri lagi ke depannya,” tutur Fadia.
Pesan ini ditujukan bagi rekan-rekan mereka seperti pasangan Rachel/Febi serta Ana/Trias yang menurut evaluasi Eng Hian Kabid Binpres PBSI masih memerlukan peningkatan konsistensi baik dari sisi fisik maupun pola permainan agar bisa bersaing di level yang lebih tinggi seperti Super 500 atau 1000.
Bagas/Leo: Menemukan Kembali Rasa Kebangkitan
Setelah sempat mengalami masa sulit dan paceklik gelar sejak menjuarai Korea Open 2024, pasangan Bagas Maulana/Leo Rolly Carnando akhirnya kembali mencicipi podium juara. Di partai final sesama wakil Indonesia (All Indonesian Final), mereka menunjukkan kematangannya dengan mengalahkan pasangan muda Raymond Indra/Nikolaus Joaquin lewat dua gim langsung, 21-10, 21-17.
Kemenangan ini terasa sangat emosional bagi Leo Rolly Carnando. Saking emosionalnya, Leo secara spontan membanting raketnya saat merayakan poin terakhir—sebuah tindakan yang kemudian ia sesali dengan rendah hati. “Saya mau meminta maaf karena selebrasi saya tadi membanting raket, karena udah lama gak juara dan saya spontan banting raket,” ungkap Leo.
Bagas pun menambahkan bahwa motivasi terbesar mereka datang dari keinginan untuk keluar dari masa vakum prestasi. “Ternyata ini rasanya kebangkitan, tetapi jangan cepat puas karena masih ada pertandingan-pertandingan lainnya,” tutur Bagas.
Pengalaman menjadi kunci utama Leo/Bagas saat menghadapi juniornya, Raymond/Joaquin. Mereka memilih untuk tidak meladeni adu kecepatan secara frontal karena menyadari stamina pemain muda jauh lebih meledak-ledak. Strategi ini terbukti ampuh meredam agresivitas Raymond/Joaquin yang sebenarnya tampil luar biasa sepanjang turnamen.
Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil dan Bobby Setiabudi/Melati Daeva Oktavianti naik podium di Thailand Masters 2026, Minggu (1/2/2026). Foto PBSIGanda Campuran: Adnan/Indah dan Pecah Telur
Sektor ganda campuran turut menyumbangkan kegembiraan melalui Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil. Mereka berhasil memenangi “perang saudara” melawan pasangan Bobby Setiabudi/Melati Daeva Oktavianti dengan skor ketat 18-21, 21-19, 21-17. Bagi Adnan/Indah, Thailand Masters 2026 adalah tonggak sejarah—gelar BWF World Tour pertama dalam karier mereka.
Indah mengungkapkan bahwa ketenangan di saat-saat kritis menjadi kunci utama. “Bobby/Melati start-nya cukup bagus, kami tertinggal terus. Beruntung kami bisa mengambil alih ritmenya dengan tenang,” jelasnya.
Gelar ini menjadi bukti bahwa mereka mampu menjawab tantangan PBSI yang menargetkan juara di level Super 300 tahun ini. Namun, Adnan menegaskan bahwa mereka tidak akan berhenti di sini. Keyakinan diri yang sempat goyah kini telah kembali, dan mereka siap menatap level kompetisi yang lebih tinggi.
Evaluasi Strategis Eng Hian: Menuju Tahun Prestasi 2026
Meskipun Indonesia keluar sebagai juara umum, Eng Hian Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI tidak ingin tim terbuai dalam euforia berlebih. Dalam rilis evaluasinya, Eng Hian menyoroti beberapa aspek yang harus segera dibenahi setibanya tim di Jakarta.
Pertama, mengenai performa Raymond/Joaquin yang tampil antiklimaks di partai final. “Pada dua partai final tersebut performa mereka tidak tampil seperti pada babak-babak sebelumnya. Peningkatan kondisi fisik harus dilakukan agar mampu bersaing di level yang lebih tinggi,” tegasnya.
Kedua, Eng Hian menekankan bahwa tahun 2026 telah ditetapkan sebagai “Tahun Prestasi”. Fokus utama bukan lagi sekadar partisipasi, melainkan peningkatan pencapaian di turnamen level Super 500 ke atas.
Prestasi di Bangkok ini dipandang sebagai buah dari program regenerasi tahun 2025. PBSI ingin memastikan bahwa transisi dari pemain junior ke senior berjalan mulus. Dengan komposisi pemain muda yang dominan meraih prestasi di Thailand, harapan untuk memiliki skuad yang kompetitif di Olimpiade mendatang kian terbuka lebar.
“Kami menginginkan hasil dari program yang telah dijalankan dapat dilanjutkan dengan peningkatan pencapaian prestasi sebagai bagian dari persiapan menuju kualifikasi Olimpiade,” tambah Eng Hian.
Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin naik podium Thailand Masters 2026, Minggu (1/2/2026). Foto PBSIMasa Depan Bulu Tangkis Indonesia
Keberhasilan di Thailand Masters 2026 memberikan gambaran peta kekuatan baru. Sektor tunggal putra kini tidak hanya bergantung pada nama-nama besar, tetapi sudah memiliki pelapis sekaliber Ubed yang memiliki mentalitas juara.
Sektor ganda, baik putra, putri, maupun campuran, mulai menunjukkan pola “bongkar-pasang” yang membuahkan hasil instan seperti pada kasus Fadia/Tiwi.
Namun, pekerjaan rumah tetap menumpuk. Konsistensi fisik menjadi sorotan utama Eng Hian. Di era bulu tangkis modern yang sangat cepat dan mengandalkan fisik, ketahanan stamina adalah harga mati. Para atlet muda Indonesia harus mampu menjaga performa mereka bukan hanya dalam satu turnamen, melainkan dalam rangkaian tur yang panjang.
Konsistensi Adalah Kunci
Capaian Indonesia sebagai Juara Umum Thailand Masters 2026 sekaligus keberhasilan para atlet meraih gelar Super 300 pertama mereka menjadi indikator positif dari arah pembinaan yang tepat. Emosi yang meluap dari Leo, kebahagiaan Ubed, hingga optimisme Adnan/Indah adalah modal psikologis yang sangat berharga.
Tantangan sesungguhnya akan hadir di turnamen dengan level yang lebih tinggi, di mana lawan yang dihadapi adalah para penghuni peringkat sepuluh besar dunia.
PBSI dan para atlet harus memastikan bahwa prestasi di Bangkok ini bukanlah puncak, melainkan titik awal dari konsistensi menuju kejayaan yang sesungguhnya di panggung dunia. Semangat “Tahun Prestasi 2026” kini telah dimulai dengan langkah yang sangat meyakinkan. (saf/ipg)