BOGOR, KOMPAS.com – Di tengah hiruk-pikuk pusat Kota Bogor, berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan jejak panjang sejarah perjuangan bangsa.
Gedung itu dikenal sebagai Museum Perjuangan Bogor, ruang yang merekam kisah para pejuang kemerdekaan sekaligus menjadi penanda perjalanan sejarah di wilayah Bogor dan sekitarnya.
Museum ini tidak sekadar memamerkan koleksi benda peninggalan masa lalu, tetapi juga menghadirkan ruang pembelajaran yang memperkenalkan nilai-nilai kepahlawanan kepada generasi masa kini secara edukatif dan bermakna.
Baca juga: Museum Perjuangan Bogor Menjaga Jejak Para Pejuang
Terletak di Jalan Merdeka Nomor 66, Kecamatan Bogor Tengah, Museum Perjuangan Bogor resmi berdiri pada 10 November 1957.
Museum ini dibangun atas prakarsa para pejuang yang tergabung dalam wilayah Karesidenan Bogor sebagai wujud penghargaan sekaligus pengingat atas pengorbanan mereka dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Namun demikian, sejarawan Taufik Hassuna menjelaskan sejak awal museum ini tidak pernah dikelola oleh Pemerintah Kota Bogor. Pengelolaannya sepenuhnya berada di tangan para pejuang yang kemudian membentuk sebuah yayasan.
“Memang dari awal jadi, karena memang itu inisiatif apalagi ya kemerdekaan para pejuang ngumpul terus mereka sepakat waktu itu tentu masih semangat-semangatnya untuk membuat museum," kata Taufik saat dihubungi, Senin (2/2/2026).
Taufik menyebutkan, Museum Perjuangan Bogor bahkan menjadi museum perjuangan pertama yang berdiri di Indonesia.
Euforia pascakemerdekaan membuat proses pengumpulan koleksi relatif mudah karena benda-benda perjuangan masih berada dekat dengan para pelaku sejarahnya.
Baca juga: Fadli Zon Sebut Museum Syekh Yusuf Al Makassari di Afsel Dibangun Tahun Ini
Namun, persoalan mulai muncul seiring berjalannya waktu dan berkurangnya generasi pejuang.
“Hanya masalahnya adalah pemulihan dari sisi pengelolaan selanjutnya dan tentu dari masalah legalitas waktu itu pun tidak terpikirkan sehingga kemudian mereka sepakat untuk membuat namanya Yayasan Museum Perjuangan sama sekali tidak melibatkan pemerintah," katanya.
Pengelolaan yang tak pernah dituntaskanMeski memiliki koleksi yang cukup lengkap, persoalan mendasar museum ini justru terletak pada aspek pengelolaan.
Menurut Taufik, pada masa awal pemerintah hanya memberikan dukungan moral, sementara pengelolaan sepenuhnya diserahkan kepada yayasan yang diisi para pejuang.
Dalam perjalanannya, pergantian generasi membuat struktur pengurus terus berubah hingga akhirnya tidak lagi memiliki keterkaitan langsung dengan para pelaku sejarah.
“Sehingga tentu bantuan tidak bisa dilakukan Karena kapasitas dan kapabilitas Orang-orang tersebut juga yang sekarang jadi pengurus Juga tidak jelas," katanya.
Baca juga: Tak Hanya Pindahkan Patung, Pramono Juga Akan Perbaiki Museum MH Thamrin
Persoalan paling krusial, menurut Taufik, adalah kondisi perawatan koleksi. Benda-benda bersejarah bernilai tinggi berisiko rusak apabila hanya dirawat secara seadanya.
“Agak krusial juga pertama adalah barang-barang itu tentu punya nilai dengan kondisi perawatan seadanya, bagaimana perawatan benda-benda atau tinggalan-tinggalan yang sifatnya cepat haus Kalau perawatan seadanya begitu kan hancur," ujar dia.
Pantauan Kompas.com di dalam Museum Perjuangan Bogor menunjukkan sejumlah bagian bangunan yang kurang perawatan.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5289607/original/098662900_1753074718-WhatsApp_Image_2025-07-21_at_12.09.59.jpeg)

