Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) memberikan catatan terkait keinginan Prabowo Subianto menjalankan proyek gentengisasi. Ketua Umum IAI, Georgius Budi Yulianto, menilai genteng dari tanah liat kualitasnya memang bagus.
“Secara mikroklimatik, genteng tanah liat memiliki kemampuan isolasi panas yang baik sehingga meningkatkan kenyamanan termal ruang di bawahnya, sekaligus memiliki nilai keberlanjutan karena berasal dari material alami dan dapat didaur ulang,” kata pria yang biasa dipanggil Bugar tersebut dihubungi kumparan, Selasa (3/2).
Bugar mengatakan perbandingan antara genteng tanah liat dan atap seng tidak bisa dilakukan secara parsial. Dari sisi efisiensi struktural dan konstruksi, material atap berbahan metal seperti seng, zincalume, dan panel ringan dinilai memiliki keunggulan karena bobotnya lebih ringan, kebutuhan rangka atap yang lebih sederhana, proses pemasangan yang lebih cepat, serta berpotensi menekan risiko fatalitas saat terjadi gempa bumi.
“Sebaliknya, dari aspek kenyamanan termal, akustik, dan dampak lingkungan jangka panjang, genteng tanah liat lebih unggul dibandingkan seng atau asbes, yang cenderung panas, bising saat hujan, dan pada kasus asbes memiliki risiko kesehatan serius,” ungkap Bugar.
Bugar mengungkapkan dalam memilih jenis atap untuk tempat tinggal juga harus mempertimbangkan konteks geografis dan ekologis Indonesia yang beragam. Menurutnya, tidak seluruh wilayah memiliki sumber tanah liat yang memadai untuk produksi genteng.
“Di Pulau Jawa, misalnya, penggunaan genteng tanah liat berkembang secara historis karena ketersediaan bahan baku dan kecocokannya dengan iklim. Sementara di wilayah kepulauan seperti Maluku atau daerah pesisir berangin dan rawan gempa,” ungkap Bugar.
Untuk itu, Bugar menilai tidak ada satu jenis material atap yang dapat dianggap paling tepat untuk seluruh wilayah Indonesia.
Bugar menuturkan dalam menentukan atap, pemilihan material idealnya mempertimbangkan aspek keandalan bangunan yang mencakup keselamatan, kemudahan konstruksi, kesehatan, kenyamanan penghuni, serta ketahanan terhadap potensi kebencanaan seperti gempa bumi dan angin kencang.
“Kedua, aspek keberlanjutan, di mana material yang bersumber dari wilayah sekitar idealnya dalam radius maksimum 100 kilometer, lebih disarankan untuk menekan jejak karbon transportasi dan mendukung ekonomi lokal,” tutur Bugar.
Dengan pertimbangan tersebut, usulan Prabowo mengenai penggunaan genteng tanah liat dinilai dapat diterima dan relevan apabila pada dasarnya diterapkan secara kontekstual, bukan sebagai kebijakan seragam.
Bugar menuturkan genteng tanah liat memang dianggap sebagai pilihan yang baik jika diterapkan dalam wilayah yang memiliki ketersediaan material, tradisi penggunaan, serta tingkat kebencanaan yang memungkinkan. Namun di wilayah lain, Bugar menilai fleksibilitas dalam pemilihan material tetap dianggap penting agar prinsip keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan dapat berjalan secara seimbang.
“Pendekatan inilah yang sejalan dengan prinsip arsitektur berkelanjutan dan tanggung jawab profesional arsitek terhadap masyarakat dan lingkungan,” kata Bugar.
Sebelumnya, Prabowo menggagas ide untuk penggunaan genteng berbahan dasar tanah untuk memperindah bangunan di setiap atap rumah. Nantinya, Koperasi Desa Merah Putih akan dilibatkan dalam industri genteng tersebut.
Menurut Prabowo, saat ini masih banyak ditemui atap rumah di berbagai daerah yang menggunakan seng. Seng dinilai tidak awet dan tidak ramah lingkungan.
“Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat, jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng. Maaf saya tidak tahu ini dari dulu industri aluminium dari mana ya, maaf bikin yang lain-lain deh,” kata Prabowo dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul, Jawa Barat pada Senin (2/2).
“Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Jadi nanti ini gerakannya adalah gerakan, proyeknya adalah proyek gentengisasi ke Indonesia,” lanjutnya.



/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F02%2F03%2Fbff00b7eab2aa5456cc6d62527b6c2d3-FAK_3938.jpg)
