Siswa SD di NTT Diduga Bunuh Diri, Negara Diminta Tak Biarkan Anak Pikul Beban Hidup Sendirian

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani (Ari) meminta negara tidak membiarkan anak-anak memikul beban hidupnya sendirian.

Ari menegaskan, pemenuhan kebutuhan belajar harus ditanggung negara.

Hal tersebut Ari sampaikan dalam merespons peristiwa anak SD berumur 10 tahun yang meninggal bunuh diri di Ngada, NTT, diduga karena tak mampu membeli pena dan buku.

"Jangan biarkan anak-anak memikul beban hidup sendirian, apalagi hal ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan belajarnya yang seharusnya ditanggung negara," kata Ari, kepada Kompas.com, Selasa (3/2/2026).

Baca juga: MUI Sebut Prabowo Janji RI Keluar dari Board of Peace, jika Tak Bawa Kemerdekaan Palestina

Ari menyampaikan, kasus meninggalnya anak SD di NTT ini sangat memilukan, dan harus jadi alarm keras bagi semua pihak.

Menurut dia, jika benar ada motif ekonomi, itu menunjukkan negara belum sepenuhnya hadir melindungi anak dari tekanan kemiskinan yang berdampak pada mental dan keberlangsungan pendidikan.

"Ke depan, negara wajib memperkuat jaring pengaman sosial di sekolah, memastikan tidak ada anak yang merasa terbebani karena kemiskinan," ucap dia.

Di saat yang sama, Ari mendesak orangtua, keluarga, dan lingkungan terdekat harus lebih peka terhadap kondisi mental anak.

"Tidak menganggap remeh keluhan kecil, dan aktif memberi dukungan emosional," imbuh Ari.

Dikutip dari Kompas.id, dalam artikel berjudul, "Anak SD Bunuh Diri lantaran Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Tamparan bagi Negara", kematian YBS (10), yang diduga akibat bunuh diri, adalah tragedi kemanusiaan.

Siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, itu putus asa dengan keadaan yang dialaminya.

Saat meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10.000, ibunya MGT (47) menjawab: mereka tak punya uang.

Bagi keluarga mereka, mendapatkan uang dengan nominal itu memang tidak mudah.

Baca juga: Anak SD Bunuh Diri Diduga karena Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Alarm Keras Buat Negara

Rp 10.000 saja sulit bagi mereka yang tergolong masyarakat miskin.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

MGT bekerja sebagai petani dan buruh serabutan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Cinta Hingga Akhir Hayat: Hoegeng dan Istri Akan Dimakamkan Berdampingan
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
PDI-P: Parliamentary Threshold Tetap Diperlukan
• 14 jam lalukompas.com
thumb
Komisi II Bahas RUU Pemilu, Perludem Usul Sistem Pemilu Campuran MMP
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
AHY: Semangat Kuda Api Perkuat Bangsa Hadapi Tantangan Global
• 21 jam lalutvrinews.com
thumb
Anaknya Jadi Korban Bully Netizen Imbas Mens Rea, Komika Pandji Tidak Akan Lakukan Penuntutan
• 46 menit lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.