Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menargetkan jumlah investasi di Indonesia sebesar Rp 2.175,2 triliun pada tahun 2026 untuk menopang target pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini dapat mencapai 6 persen.
Sepanjang tahun 2025, realisasi investasi nasional mencapai Rp 1.931,2 triliun atau 101,3 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp 1.905,6 triliun. Dengan begitu, target investasi tahun ini naik sekitar 14 persen dari realisasi tahun lalu.
"Target di 2026 ini memang meningkat yang pada meningkat cukup lumayan kalau pada tahun ini adalah tahun lalu 2025 Rp 1.905,6 triliun, target 2026 ini diharapkan peningkatan investasinya Rp 2.175,2 triliun," ungkapnya saat Rapat Kerja Komisi XII DPR, Selasa (3/2).
Rosan mengatakan, target yang ditetapkan dalam APBN 2026 tersebut diharapkan dapat mengerek pertumbuhan ekonomi nasional menjadi 6 persen, dari posisi saat ini yang masih dalam kisaran 5 persen.
"Diharapkan dengan investasi ini yang masuk kita bisa mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen, sehingga inilah kontribusi yang diharapkan dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi dalam rangka pencapaian pertumbuhan yang baik," jelasnya.
Untuk mencapai target investasi tersebut, Rosan mencanangkan program pemeliharaan sistem perizinan dan berusaha terintegrasi secara elektronik atau OSS, yang sudah diperkuat dengan PP 28 Tahun 2025.
"Kita sekarang mengintegrasikan secara full perizinan dari 28 kementerian, sehingga kita perlu meng-upgrade sistem OSS kita, makanya kalau kemarin-kemarin mungkin sistem kita sangat lambat. karena sekarang kita mengintegrasikan secara full tentunya ini kalau ini sudah berjalan dengan baik akan sangat meningkatkan kredibilitas akselerasi dan juga kepastian dari perizinan," tutur Rosan.
Rosan juga menargetkan investasi pada proyek hilirisasi semakin meningkat. Pada tahun 2025, kontribusi sektor tersebut mencapai 30,2 persen senilai Rp 584,13 triliun, meskipun masih terkonsentrasi dari sektor mineral.
"Di tahun 2025 dan tahun ke depannya kami melihat investasi yang non-mineral yang dari hilirisasi ini juga sudah mulai berjalan baik di perkebunan dan kehutanan itu kurang lebih Rp 144,5 triliun, minyak dan gas bumi Rp 60 triliun, dan juga perikanan dan kelautan Rp 6,4 triliun," jelasnya.
Menurutnya, proyek hilirisasi di sektor nonmineral seperti perkebunan, kehutanan, dan perikanan bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja dibandingkan sektor mineral. Dia mencontohkan proyek hilirisasi kelapa ditargetkan bisa menciptakan 10 ribu lapangan pekerjaan.
"Contohnya saja kita juga kita baru melakukan investasi untuk hilirisasi di bidang kelapa, investasinya dibandingkan mineral itu memang berbeda jauh hanya USD 100 juta, tapi penyerapan tenaga kerjanya itu mencapai 10 ribu orang. Investasinya baru masuk, sedang melakukan konstruksi yang di mana akhir tahun 2026 Insyaallah itu akan selesai," ungkap Rosan.



