Bisnis.com, JAKARTA - Perekonomian China tersendat di awal 2026 setelah data PMI Januari menunjukkan perlambatan di luar ekspektasi. Hal ini memperkuat tekanan bagi pemerintah setempat untuk segera menggencarkan stimulus guna menopang permintaan domestik.
Melansir Bloomberg pada Selasa (3/2/2026), data purchasing managers index (PMI) manufaktur resmi yang dirilis akhir pekan lalu menunjukkan perlambatan yang tidak terduga dan bersifat luas pada Januari. Aktivitas sektor nonmanufaktur bahkan tercatat berkontraksi dengan laju terdalam sejak akhir 2022.
Sementara indikator PMI versi swasta yang dirilis pada Senin menunjukkan sinyal lebih positif bagi perusahaan manufaktur berorientasi ekspor, data tersebut mencerminkan struktur ekonomi yang timpang dan berisiko kehilangan momentum akibat lemahnya permintaan dalam negeri.
“Pesan dari survei bisnis ini menegaskan perlunya dukungan kebijakan secara mendesak untuk menstabilkan sentimen dan aktivitas ekonomi,” ujar ekonom Bloomberg Economics, Chang Shu dan David Qu.
Keduanya menilai akhir Februari menjadi jendela waktu paling awal yang masuk akal untuk pemangkasan suku bunga acuan.
Dalam beberapa bulan terakhir, momentum ekonomi China terus melemah, dengan sedikit indikasi bahwa pembuat kebijakan akan menggelontorkan stimulus besar-besaran, seiring upaya menekan risiko utang pemerintah daerah.
Baca Juga
- Rantai Pasok RI Makin Berat ke China, Lampu Kuning jika Terjadi Guncangan
- Dilema Rapor Dagang RI: Rantai Pasok Didominasi China, Cuan Besar dengan AS
- Mobil China Jetour T2 Terbakar di Tol, Ini Langkah Manajemen
Beijing bahkan berpeluang menurunkan target pertumbuhan ekonomi nasional untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir, sejalan dengan sinyal Presiden Xi Jinping yang menunjukkan toleransi lebih besar terhadap perlambatan pertumbuhan di sejumlah wilayah.
Kondisi China tersebut berbanding terbalik dengan sejumlah negara Asia lainnya yang justru mencatat ekspansi aktivitas manufaktur. Barometer ekonomi perdagangan seperti Taiwan dan Korea Selatan membukukan PMI masing-masing di level 51,7 dan 51,2, didorong oleh kuatnya permintaan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, dan otomotif.
Data PMI terbaru juga meningkatkan peluang penurunan rasio giro wajib minimum (reserve requirement ratio/RRR) pada kuartal I/2026 guna memperbesar ruang likuiditas perbankan, di tengah konsumsi yang masih lesu dan prospek perlambatan ekspor setelah China mencatat surplus perdagangan rekor pada 2025.
Mayoritas ekonom memperkirakan Bank Sentral China (People’s Bank of China/PBoC) akan memangkas RRR pada kuartal pertama, berdasarkan survei Bloomberg bulan lalu. Mereka juga memproyeksikan penurunan suku bunga kebijakan utama pada kuartal terakhir tahun ini.
“PMI yang lemah menambah peluang pelonggaran kebijakan yang lebih cepat,” ujar Kepala Ekonom Greater China ING Bank NV, Lynn Song.
Menurutnya, meski bukan satu-satunya faktor, data tersebut meningkatkan kemungkinan diumumkannya stimulus tambahan setelah sidang parlemen tahunan pada awal Maret.
Awal tahun yang rapuh tercermin jelas pada subindeks permintaan. Indeks pesanan baru merosot ke level 49,2—di bawah ambang batas ekspansi 50—sementara pesanan ekspor semakin dalam berada di zona kontraksi pada level 47,8.
Subindeks ekspektasi produksi juga turun 2,9 poin persentase, menjadi penurunan bulanan terdalam dalam lebih dari empat tahun, yang menyoroti melemahnya kepercayaan dunia usaha.
Upaya Beijing untuk mendongkrak konsumsi melalui subsidi senilai 62,5 miliar yuan (sekitar US$9 miliar) sejauh ini belum menunjukkan dampak signifikan. PMI barang konsumsi turun ke level 48,3 dari sebelumnya 50,4.
“Pencapaian PMI manufaktur dan nonmanufaktur yang jauh di bawah ekspektasi menunjukkan lemahnya permintaan fundamental,” ujar Kepala Ekonom China Nomura, Lu Ting.
Dia menilai konsumsi menghadapi tekanan besar akibat berkurangnya program insentif tukar tambah (trade-in) tahun ini.
Paradoks utama ekonomi China masih terlihat dari kesenjangan antara kuatnya ekspor dan kondisi sektor manufaktur secara keseluruhan. Meski manufaktur berteknologi tinggi tetap berada di zona ekspansi pada level 52, sektor manufaktur secara umum terbebani oleh lesunya investasi yang berkepanjangan.
Perbedaan mencolok antara PMI manufaktur resmi dan survei swasta RatingDog—yang mencatat angka 50,3—menegaskan kesenjangan tersebut. Sampel RatingDog lebih banyak mencakup perusahaan swasta di wilayah pesisir yang berorientasi ekspor, sehingga hasilnya cenderung lebih kuat dibandingkan survei resmi dalam beberapa bulan terakhir.
“Kunci bagi China adalah mendorong permintaan domestik. Pemulihan pasar properti sangat dibutuhkan,” ujar Kepala Ekonom Greater China ANZ, Raymond Yeung.
PMI konstruksi resmi tercatat turun dari 52,8 menjadi 48,8, level terendah di luar periode pandemi.
Di sisi lain, indikator harga memberikan sedikit kabar positif. Harga input dan output sama-sama naik tipis seiring meningkatnya biaya komoditas. Hal ini mengindikasikan kampanye pemerintah untuk menekan perang harga berlebihan mulai menunjukkan dampak, yang berpotensi memperbaiki margin perusahaan.
Kepala Ekonom China Credit Agricole CIB, Xiaojia Zhi, menilai pembuat kebijakan masih membutuhkan data tambahan sebelum mengambil langkah besar. Namun, dia memperkirakan stimulus lanjutan akan digulirkan dalam beberapa bulan ke depan.
“China perlu semakin memperkuat pelonggaran kebijakan pada 2026 jika ingin menjaga pertumbuhan PDB tetap pada level yang layak,” ujarnya.


