VIVA –Ali Shamkhani, penasihat politik senior Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, mengatakan pada Selasa bahwa “tidak ada alasan” bagi Teheran untuk mentransfer uranium yang diperkaya ke luar negeri. Pernyataan itu disampaikan menjelang rencana dimulainya kembali negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika Serikat di Istanbul pada Jumat mendatang.
Salah satu isu utama yang menjadi ganjalan dalam perundingan adalah persediaan uranium Iran yang diperkaya hingga tingkat kemurnian 60 persen, sebagaimana dilaporkan badan nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pejabat Amerika Serikat bersikeras bahwa material tersebut harus dikeluarkan dari wilayah Iran.
Shamkhani menyatakan Iran memiliki kemampuan untuk menurunkan tingkat pengayaan uranium hingga 20 persen, seraya menegaskan bahwa langkah tersebut akan menghilangkan kebutuhan untuk mentransfer uranium ke luar negeri. Namun, ia menekankan bahwa setiap pengurangan pengayaan harus “diimbangi dengan konsesi dan kompensasi timbal balik.”
Sehari sebelumnya, Ali Bagheri-Kani, wakil kepala badan keamanan tertinggi Iran, juga membantah laporan mengenai rencana pemindahan uranium yang diperkaya ke luar negeri. Ia menyatakan bahwa kesepakatan dengan Amerika Serikat masih dapat dicapai melalui dialog dan negosiasi, selama “atmosfer ancaman” diakhiri.
Sebagai anggota senior Dewan Pertahanan Nasional yang baru dibentuk setelah perang 12 hari dengan Israel, Shamkhani menegaskan bahwa produksi maupun kepemilikan senjata nuklir dilarang dalam doktrin pertahanan Iran. Ia mengatakan bahwa dalam putaran perundingan sebelumnya—yang terhenti setelah konflik tersebut pada Juni tahun lalu—Iran telah menjelaskan bahwa mereka tidak mencari senjata nuklir dan tidak bergerak menuju produksi atau penimbunan senjata nuklir, sejalan dengan pernyataan para pejabat senior Iran lainnya.
Terkait akumulasi uranium yang diperkaya hingga 60 persen, Shamkhani menegaskan bahwa material tersebut “tidak diproduksi untuk tujuan militer.” Ia menekankan bahwa program nuklir Iran “bersifat damai dan kemampuannya berasal dari dalam negeri.”
Shamkhani juga mengatakan Iran saat ini berada dalam apa yang ia gambarkan sebagai “keadaan perang yang nyata” dan “sepenuhnya siap untuk skenario apa pun.” Meski demikian, ia menekankan bahwa kesiapan militer tidak berarti menerima perang atau mendorong negara ke arah konflik.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5492306/original/067695200_1770159391-Kapolri_Kenang.jpg)
/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F02%2F03%2F3cfe8b7f7cebcc5e1ed44c95fb83bf21-cropped_image.jpg)