Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Jakarta
Perusahaan teknologi asal Singapura, SCash, menjalin kemitraan strategis dengan PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) untuk memperkuat ekosistem usaha berbasis komoditas di Indonesia. Kolaborasi strategis ini difokuskan pada revitalisasi usaha berbasis komoditas, koperasi, dan pengusaha desa di seluruh Indonesia agar mampu bersaing dalam ekosistem perdagangan yang lebih modern, transparan, dan efisien.
Sinergi ini menggabungkan peran KBI sebagai badan usaha milik negara yang menjamin tata kelola perdagangan komoditas dengan inovasi teknologi New Retail milik SCash. Langkah ini diambil untuk memastikan pelaku ekonomi desa dan pelaku UMKM, yang merupakan 99 persen penggerak ekonomi nasional, memiliki akses yang setara terhadap infrastruktur digital dan pasar yang lebih terstruktur.
Melalui kemitraan ini, pemerintah berupaya memberikan jaminan keamanan transaksi bagi wirausaha berbasis komunitas, terutama di sektor pertanian. Keterlibatan Asosiasi Pengusaha Usaha Desa Indonesia (APUDSI) dalam kolaborasi ini juga memastikan bahwa aspirasi pelaku ekonomi desa menjadi prioritas dalam pembangunan nasional.
CEO SCash, Michael Lee Eng Yew, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk nyata keberpihakan terhadap ekonomi rakyat agar tidak terpinggirkan oleh pesatnya perkembangan teknologi global.
“Komitmen SCash tidak hanya sebatas membangun platform teknologi. Kami berfokus pada mendorong partisipasi ekonomi nyata melalui kerja sama erat dengan institusi nasional yang tepercaya seperti KBI serta mitra ekosistem lokal. Kolaborasi ini bertujuan menghidupkan kembali usaha berbasis komoditas, memperkuat tata kelola, dan memastikan pelaku usaha desa serta koperasi tidak tertinggal seiring perkembangan ekonomi Indonesia,” ujar Michael Lee Eng Yew.
Kehadiran SCash di tanah air juga menyentuh aspek pemberdayaan sosial, seperti inisiatif #EmpowerWomenSentani di Papua. Program tersebut membuktikan bahwa pendampingan teknologi yang tepat sasaran dapat meningkatkan akuntabilitas dan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat lokal melalui pelatihan serta verifikasi berbasis komunitas.
Selain itu, pemerintah memperkuat ekosistem ini dengan mengintegrasikan Sistem Resi Gudang (SRG) melalui keterlibatan PT Kliring Perdagangan Berjangka Indonesia (KPBI) dan mitra strategis lainnya. Integrasi ini diharapkan mampu mendongkrak nilai tambah produk lokal desa saat masuk ke pasar formal.
“Kerja sama ini bukan hanya seremonial, melainkan komitmen jangka panjang untuk memperkuat usaha komoditas dan mendorong pelaku usaha desa agar berkembang secara berkelanjutan di ekonomi formal Indonesia,” tambah Michael Lee.
Dengan adanya penguatan koordinasi antara otoritas negara dan penyedia teknologi, pemerintah optimistis momentum pertumbuhan ekonomi desa akan semakin inklusif dan berkelanjutan menuju visi Indonesia Emas 2045.
Editor: Redaktur TVRINews




