Sudah Pernah Berhaji, Apakah Wajib Dipanggil Pak Haji atau Bu Hajjah?

tvonenews.com
11 jam lalu
Cover Berita

tvOnenews.com - Di tengah masyarakat Indonesia, kepulangan seseorang dari Tanah Suci hampir selalu diiringi perubahan panggilan. 

Nama yang dulu sederhana, kini bertambah “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”. 

Undangan acara diganti, papan nama rumah diperbarui, bahkan sapaan di warung pun ikut berubah.

Namun, tak jarang muncul situasi canggung. Ada yang merasa sungkan memanggil “Pak Haji”, ada pula yang justru tersinggung ketika tidak dipanggil demikian. 

Di sisi lain, ada orang yang merasa gelar itu terlalu dibesar-besarkan, sementara sebagian lainnya diam-diam berharap mendapat panggilan tersebut sebagai bentuk penghormatan.

Lalu, bagaimana sebenarnya adab yang benar dalam menyikapi panggilan “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”? Apakah itu kewajiban, atau sekadar tradisi sosial?

Ilustrasi ibadah haji.
Sumber :
  • Antara

Tradisi yang Lahir dari Husnuzan

Buya Yahya menjelaskan bahwa kebiasaan memanggil “Pak Haji” di Indonesia pada dasarnya berangkat dari husnuzan, prasangka baik kepada sesama muslim.

“Karena kita melihat orang haji, kita husnuzan bahwa dia telah menjadi tamu Allah, orang yang dipilih oleh Allah,” ujar Buya Yahya, dilansir dari kanal YouTube Al-Bahjah TV.

Menurutnya, rasa senang melihat orang pulang haji justru pertanda kebaikan dalam hati.

“Kalau Anda senang melihat orang pulang haji, itu tanda-tanda akan segera bisa nyusul,” katanya.

Sebaliknya, Buya Yahya mengingatkan agar berhati-hati dengan perasaan iri atau dengki ketika melihat orang lain berhaji.

“Ada orang lihat orang haji marah, dengki. Maka dia tidak akan bisa haji. Kalau pun haji atau umrah, umrahnya jor-joran, bukan karena Allah,” tegasnya.

Memanggil Pak Haji, Salah atau Tidak?

Dalam pandangan Buya Yahya, memanggil seseorang dengan sebutan “Pak Haji” bukanlah sebuah kesalahan.

“Kalau ada tetangga dipanggil Haji, nggak ada masalah. Apa sih salahnya? Manggil aja,” ujarnya santai.

Panggilan tersebut, menurut Buya Yahya, sudah menjadi kebiasaan sosial yang hidup di tengah masyarakat. Karena itu, tidak perlu dipermasalahkan secara berlebihan.

Namun, Buya Yahya juga mengingatkan agar panggilan ini tidak berubah menjadi sumber kesombongan atau rasa bangga berlebihan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Menag: Hubungan Prabowo-MbS Dekat, RI Dapat Lahan Luas Buat Kampung Haji
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Kewenangan Polri Terlalu Luas? Guru Besar UGM Desak Restrukturisasi Besar-Besaran
• 21 jam lalusuara.com
thumb
KPK Sebut Persidangan Ekstradisi Paulus Tannos Memasuki Babak Akhir
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Usai Anjlok, Harga Emas Antam Kembali Naik Rp 102 Ribu per Gram
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Zhouzhuang dan Arsitektur Vernakular: Ketika Keindahan Itu Efek Samping
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.