Jakarta: Memasuki usia SMA, remaja mulai mencari kemandirian namun tetap membutuhkan arahan dalam penggunaan teknologi. Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, menyarankan agar orang tua menerapkan pendekatan berbasis fungsi dan waktu guna membatasi penggunaan gawai, alih-alih memberikan hukuman yang bersifat emosional.
"Pendekatan ini terbukti lebih efektif dibanding larangan keras, karena remaja merasa dipercaya sekaligus diarahkan," kata Kasandra kepada ANTARA di Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026.
Baca Juga :
Hector Souto Pasang Target Indonesia Masuk Final Piala Asia FutsalKasandra menjelaskan bahwa kesepakatan antara orang tua dan anak menjadi kunci utama. Remaja dapat diberikan kebebasan menggunakan gawai untuk keperluan sekolah dan komunikasi sosial pada jam-jam tertentu. Namun, aturan ketat harus diberlakukan pada waktu krusial, seperti saat makan, jam belajar, dan sebelum tidur, dengan batas hiburan digital maksimal dua hingga tiga jam per hari.
"Pembatasan bukan berarti larangan total, melainkan kerangka aturan yang melatih regulasi diri. Orang tua berperan sebagai pemandu, bukan pengawas mutlak," tegas Kasandra.
Ilustrasi. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/hp/aa
Secara biologis, bagian otak prefrontal cortex yang berfungsi mengendalikan diri dan mempertimbangkan risiko pada remaja belum berkembang sempurna hingga usia awal 20-an. Hal inilah yang membuat remaja SMA tetap rentan terhadap distraksi dan ketergantungan digital.
Oleh karena itu, Kasandra mengingatkan agar orang tua memberikan alasan yang transparan di balik setiap aturan yang dibuat. Ia juga menekankan pentingnya keteladanan.
Orang tua harus konsisten menjalankan aturan yang sama agar remaja tidak merasa adanya ketidakadilan. Dengan menempatkan diri sebagai pemandu, orang tua membantu remaja melatih kemandirian dalam mengambil keputusan yang bertanggung jawab terkait penggunaan teknologi.
