Pasar BEV Nasional Meningkat Pesat di Tengah Pertimbangan Efisiensi Mobilitas

kumparan.com
13 jam lalu
Cover Berita

Dinamika pasar otomotif nasional akhir-akhir ini begitu menarik. Paling disorot adalah penjualan segmen battery electric vehicle (BEV) atau mobil listrik murni yang mengalami pertumbuhan signifikan, terutama sepanjang tahun 2025 berjalan.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo menampilkan penjualan wholesales (distribusi pabrik ke diler) BEV totalnya mencapai 104.000 unit selama Januari hingga Desember kemarin.

Pengamat Otomotif Bebin Djuana mengatakan, dibanding dua sampai tiga tahun terakhir, ada beberapa faktor yang membuat BEV kini mulai jadi pilihan masuk akal bagi konsumen Indonesia.

“Saya melihat begini, sebenarnya minat masyarakat untuk beralih ke BEV itu sudah sangat besar. Cuma memang kendala awal-awal itu kan terkait harga (yang masih mahal),” buka Bebin dihubungi kumparan.

Bebin menambahkan, kini mulai banyak pilihan produk dengan menawarkan harga kompetitif. Satu sisi, mulai banyak pemain yang turut mengembangkan ekosistem pendukung seperti tempat pengisian daya listrik umum.

“Mobil-mobil (BEV) yang masuk tahun ini datang dengan desain, fitur, dan spesifikasi yang semakin bagus. Kemudian juga didukung dengan biaya operasional yang lebih rendah (dibanding ICE),” imbuhnya.

Contoh kasus pada BYD Atto 1, pengalaman pengguna menjabarkan akumulasi biaya operasional harian dapat ditekan hingga 50-70 persen dibanding kendaraan ICE (Internal Combustion Engine).

Berdasarkan simulasi penggunaan harian sejauh 40 kilometer, mobil bensin konvensional membutuhkan biaya tahunan sekitar Rp 12,2 juta, yang mencakup pengeluaran BBM, pajak kendaraan yang lebih tinggi, serta biaya perawatan rutin.

Sebaliknya, BYD Atto 1 memberikan penghematan signifikan karena konsumsi energinya yang efisien dan skema pajak kendaraan listrik yang sangat terjangkau di Indonesia.

Jika pengisian daya dilakukan di SPKLU, total biaya operasional tahunan BYD Atto 1 hanya mencapai Rp 5,6 juta. Angka ini bahkan bisa ditekan lebih rendah lagi hingga hanya Rp 3,6 juta per tahun jika pengguna melakukan pengisian daya di rumah dengan tarif listrik domestik. Dengan selisih biaya mencapai Rp 9 juta hingga Rp 10 juta per tahun dibandingkan mobil bensin.

Secara global, pencapaian di Indonesia sejalan dengan momentum pertumbuhan BYD yang masif di pasar internasional. Pada tahun yang sama, raksasa otomotif asal China ini mendistribusikan total 4,6 juta unit kendaraan ke seluruh dunia, dengan 1 juta unit di antaranya merupakan komoditas ekspor.

Di kawasan Asia Tenggara, BYD bahkan mendominasi pasar sebagai merek nomor satu di Singapura dan meraih penjualan yang signifikan di Thailand. Keberhasilan regional ini turut memperkuat posisi tawar dan stabilitas BYD di pasar tanah air.

Pertumbuhan BYD di pasar Indonesia tidak hanya tercermin dari capaian penjualan, tetapi juga dari keterlibatannya dalam mengikuti dinamika perkembangan industri otomotif nasional yang tengah memasuki fase elektrifikasi.

Sejalan dengan itu, BYD memperluas jaringan layanan purna jual di berbagai wilayah Indonesia, sekaligus menyiapkan penguatan sektor hulu melalui rencana produksi lokal yang ditargetkan mulai berjalan pada 2026.

Rencana pengoperasian fasilitas produksi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa elektrifikasi tidak hanya berlangsung pada sisi konsumsi, tetapi juga mulai menyentuh struktur industri dalam negeri. Kehadiran fasilitas produksi lokal berpotensi memperkuat rantai pasok, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan daya saing industri otomotif nasional di era transisi energi.

Dalam konteks pemanfaatan BEV secara lebih luas, BYD juga menjalin kerja sama dengan perusahaan pembiayaan, penyedia layanan mobilitas, serta sektor ride hailing untuk memperluas akses pasar.

Upaya edukasi turut dilakukan melalui kegiatan roadshow di sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Diponegoro Semarang, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Hasanuddin Makassar.

Sementara itu, program lingkungan diwujudkan melalui penanaman 500 pohon mangrove yang diperkirakan mampu menyerap sekitar 10 ton CO₂ per tahun. Inisiatif tersebut menunjukkan bahwa pengembangan BEV di Indonesia tidak hanya bergantung pada produk, tetapi juga pada keterjangkauan biaya serta dukungan ekosistem yang berkelanjutan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ditagih malah Memaki-maki dengan Kata Kasar, Emak Dihajar Penagih Utang
• 52 menit lalurealita.co
thumb
Polri Anugerahkan Medali Kehormatan untuk Reno, Satwa Pelacak K9 Milik Polda Riau
• 4 jam laludisway.id
thumb
Jadwal Cuti Bersama Imlek 2026, Yuk Rencanakan Liburan Long Weekend!
• 8 jam laludisway.id
thumb
Komnas Anak Minta Virgoun dan Inara Rusli Tak Egois
• 4 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Mantan Bos BUMN Bakal Dipanggil Kejaksaan jika Bikin Negara Rugi, Begini Respons KPK
• 7 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.