Harga Minyak Naik Hampir 2 Persen usai AS Tembak Jatuh Drone Iran

idxchannel.com
1 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak naik hampir 2 persen pada Selasa (3/2/2026) setelah Amerika Serikat (AS) menembak jatuh drone Iran.

Harga Minyak Naik Hampir 2 Persen usai AS Tembak Jatuh Drone Iran. (Foto: Freepik(

IDXChannel - Harga minyak naik hampir 2 persen pada Selasa (3/2/2026) setelah Amerika Serikat (AS) menembak jatuh drone Iran dan sejumlah kapal cepat bersenjata mendekati kapal berbendera AS di Selat Hormuz.

Insiden ini memicu kekhawatiran bahwa upaya perundingan untuk meredakan ketegangan AS-Iran berpotensi terganggu.

Baca Juga:
Harga Emas Cetak Kenaikan Harian Terbesar sejak 2008, Perak Ikut Bangkit

Harga minyak mentah Brent naik 1,6 persen dan ditutup di level USD67,33 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,7 persen ke posisi penutupan USD63,21 per barel.

Sehari sebelumnya, kedua acuan harga minyak tersebut sempat anjlok lebih dari 4 persen setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran tengah “serius berbicara” dengan Washington.

Baca Juga:
Harga Emas Galeri24 dan UBS di Pegadaian Kompak Turun, Ini Daftarnya

Namun pada Selasa, militer AS menembak jatuh sebuah drone Iran yang disebut “secara agresif” mendekati kapal induk Abraham Lincoln di Laut Arab.

Di Selat Hormuz, jalur penting yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman, sekelompok kapal cepat Iran juga dilaporkan mendekati sebuah tanker berbendera AS di utara Oman, menurut sumber maritim dan sebuah konsultan keamanan.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Melemah, Kekhawatiran Terkait AI Meningkat Jelang Laporan Keuangan Alphabet

Sejumlah anggota OPEC, seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui Selat Hormuz, terutama menuju pasar Asia.

“Upaya diplomatik untuk menghindari serangan militer AS ke Iran sedang terurai. Tampaknya ada pihak-pihak di Iran yang berusaha keras menyabotase proses ini,” kata Direktur Energy Futures di Mizuho, Bob Yawger, dalam catatannya, dikutip dari Reuters.

Menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA), Iran merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC pada 2025.

Pada Selasa, Uni Emirat Arab menyerukan agar Iran dan AS memanfaatkan dimulainya kembali perundingan nuklir pekan ini untuk menyelesaikan kebuntuan yang telah memicu ancaman serangan udara dari kedua pihak.

Namun Iran menuntut agar perundingan digelar di Oman, bukan Turki, serta dibatasi hanya pada isu nuklir bilateral, sehingga menimbulkan keraguan apakah pertemuan tersebut akan berlangsung sesuai rencana.

Harga minyak sempat melanjutkan penguatan setelah penutupan perdagangan, dengan Brent menembus USD68 dan WTI melampaui USD64 per barel.

Namun, penguatan itu sedikit terpangkas setelah Trump mengatakan AS masih bernegosiasi dengan Iran. Brent terakhir diperdagangkan di sekitar USD68 per barel, sementara WTI di kisaran USD63,91.

Harga minyak juga mendapat dukungan dari perkiraan penurunan tajam persediaan minyak mentah AS pekan lalu. Stok minyak mentah di negara produsen dan konsumen terbesar dunia itu turun lebih dari 11 juta barel, menurut sumber yang mengutip data American Petroleum Institute (API).

Sebelumnya pada Selasa, harga minyak turut ditopang sentimen positif dari kesepakatan dagang antara AS dan India yang memunculkan harapan peningkatan permintaan energi global.

Di sisi lain, serangan Rusia yang terus berlanjut ke Ukraina meningkatkan kekhawatiran bahwa sanksi terhadap minyak Rusia akan bertahan lebih lama.

Langkah Trump memangkas tarif impor dari India turut mengangkat sentimen pelaku pasar dan pembuat kebijakan, meski rincian kesepakatan tersebut masih terbatas.

Trump pada Senin mengumumkan kesepakatan dagang dengan India untuk menurunkan tarif menjadi 18 persen dari sebelumnya 50 persen, sebagai imbalan penghentian pembelian minyak Rusia oleh New Delhi serta penurunan hambatan perdagangan.

India merupakan salah satu ekonomi dan importir minyak terbesar dunia.

Meski kesepakatan ini terlihat positif bagi pasar minyak, firma penasihat energi Ritterbusch and Associates menilai dampak jangka pendeknya kemungkinan hanya berupa diskon yang lebih besar pada minyak mentah Rusia, tanpa banyak memengaruhi aliran kargo bayangan ke pasar global.

Di Ukraina, Presiden Volodymyr Zelensky pada Selasa menuduh Rusia memanfaatkan gencatan senjata energi yang didukung AS untuk menimbun amunisi, lalu menggunakannya menyerang Ukraina sehari sebelum perundingan damai.

Serangan semalam tersebut memutus pasokan pemanas di sejumlah kota, termasuk ibu kota Kyiv, ketika para negosiator Ukraina bertolak ke Abu Dhabi untuk putaran kedua perundingan trilateral yang dimediasi AS dan dijadwalkan berlangsung Rabu dan Kamis.

Setiap penundaan dalam mengakhiri perang Ukraina berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi, karena sanksi yang membatasi ekspor minyak Rusia masih akan diberlakukan.

Menurut data EIA, Rusia merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga dunia pada 2025, setelah AS dan Arab Saudi. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sejak Pagi Buta Warga Coba Nonton Syuting Film Lisa Blackpink di Kota Tua
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
GIS Tekankan Prinsip Ekonomi Keberlanjutan dalam 4 Aspek Utama
• 11 jam lalumedcom.id
thumb
Pengguna LRT Meningkat 26 Persen, Masyarakat Pindah dari Kendaraan Pribadi ke Transportasi Umum?
• 12 jam lalusuara.com
thumb
17 Persen Anak Muda Menganggur, DPR Soroti Lemahnya Industri Manufaktur
• 6 jam lalumerahputih.com
thumb
Tangis Megawati Kenang Istri Jenderal Hoegeng: Selamat Jalan, Tante Meri
• 15 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.