CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Kelompok pertama warga Palestina yang kembali ke Jalur Gaza setelah menjalani perawatan medis di Mesir dilaporkan mengalami interogasi ketat, perlakuan kasar, hingga ancaman penahanan oleh otoritas Israel.
Hal ini terjadi pada hari pertama dibukanya kembali penyeberangan Rafah. Kepala Juru Bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Zaher al-Wahidi, mengatakan bahwa proses kepulangan warga berjalan tidak sesuai harapan.
Menurutnya, hanya lima pasien yang diizinkan keluar Gaza untuk menjalani pengobatan, sementara 12 warga yang kembali dari Mesir justru mengalami perlakuan tidak manusiawi.
“Mereka melaporkan diinterogasi, diperlakukan dengan kasar, diancam akan ditahan atau dikirim kembali ke Mesir, termasuk perempuan,” kata al-Wahidi kepada RIA Novosti.
Ia menambahkan bahwa hari pertama operasional penyeberangan tersebut berlangsung sangat buruk.
Penyeberangan Rafah di perbatasan Mesir–Gaza kembali dibuka pada Senin setelah 18 bulan ditutup, menyusul pengambilalihan wilayah itu oleh pasukan Israel pada Mei 2024.
Pembukaan kembali jalur ini diharapkan menjadi akses penting bagi kebutuhan kemanusiaan dan medis warga Gaza.
Berdasarkan mekanisme yang berlaku saat ini, maksimal 150 warga Gaza diizinkan meninggalkan wilayah tersebut setiap hari. Sementara itu, hanya 50 orang yang diperbolehkan masuk dari Mesir ke Gaza setelah melewati prosedur keamanan yang ketat.
Pengelolaan penyeberangan Rafah dilakukan oleh Misi Bantuan Perbatasan Uni Eropa (EUBAM) bekerja sama dengan otoritas Mesir, serta melalui koordinasi keamanan dengan Israel. Setiap harinya, pihak Mesir menyerahkan daftar 50 warga Gaza yang akan masuk untuk mendapatkan persetujuan keamanan dari Israel.
Di sisi lain, EUBAM mengajukan daftar 150 warga yang akan meninggalkan Gaza, lengkap dengan tujuan akhir mereka. Seluruh proses tersebut berada di bawah pengawasan ketat dengan persetujuan keamanan Israel.
Sebelum pecahnya perang di Gaza, Rafah merupakan satu-satunya penyeberangan di wilayah Palestina yang tidak berada di bawah kendali langsung Israel. Jalur ini memiliki peran krusial dalam distribusi bantuan kemanusiaan, evakuasi korban luka, serta masuknya pasokan internasional yang vital bagi warga Gaza.
Sumber: SPutnik/RIA Novosti/Antara

