Waka Komisi X DPR: Negara Harus Hadir Lindungi Anak dari Tekanan Kemiskinan

tvrinews.com
6 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Nisa Alfiani

TVRINews, Jakarta

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menegaskan bahwa kasus meninggalnya seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus menjadi peringatan serius bagi negara dalam menjamin perlindungan anak dan akses pendidikan yang layak.

Menurut Lalu Hadrian, apabila tekanan ekonomi benar menjadi latar belakang peristiwa tersebut, maka hal itu menunjukkan masih adanya celah besar dalam sistem perlindungan sosial dan pendidikan di Indonesia.

“Kasus ini sangat memprihatinkan. Jika seorang anak sampai mengalami tekanan karena persoalan ekonomi, bahkan terkait kebutuhan dasar belajar seperti buku tulis, maka ini menandakan negara belum sepenuhnya hadir melindungi anak-anak dari dampak kemiskinan,” kata Lalu dalam keterangan yang dikutip, Rabu (4/2/2026).

Ia menekankan bahwa pemenuhan kebutuhan pendidikan dasar tidak boleh menjadi beban psikologis bagi anak. Negara, kata dia, harus memastikan sekolah menjadi ruang aman yang bebas dari tekanan ekonomi maupun sosial.

“Tidak boleh ada anak yang merasa sendirian menghadapi kesulitan hidup. Negara wajib memperkuat jaring pengaman sosial di sekolah, sekaligus memastikan bantuan pendidikan benar-benar menjangkau keluarga yang membutuhkan,” ujarnya.

Selain peran negara, Lalu Hadrian juga menyoroti pentingnya kepekaan keluarga dan lingkungan sekitar terhadap kondisi mental anak. Ia meminta agar orang tua dan orang-orang terdekat tidak mengabaikan perubahan sikap atau keluhan anak.

“Keluhan kecil pada anak tidak boleh dianggap sepele. Dukungan emosional dari keluarga dan lingkungan sangat menentukan kondisi psikologis anak,” tuturnya.

Sebelumnya, seorang siswa kelas IV SD berinisial YBR (10) ditemukan meninggal dunia di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada. Dalam proses penanganan kasus, kepolisian menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditulis oleh korban.

Kepala Seksi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R. Pissort, membenarkan temuan surat tersebut. Surat itu ditulis menggunakan bahasa daerah Bajawa dan berisi ungkapan perasaan korban kepada ibunya, termasuk pesan perpisahan.

Sementara itu, Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan bahwa pada malam sebelum kejadian, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pulpen. Permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.

“Korban memang sempat meminta uang untuk membeli perlengkapan sekolah sebelum kejadian,” kata Dion Roa.

Peristiwa ini menambah daftar panjang persoalan sosial yang dihadapi anak-anak di daerah dengan keterbatasan ekonomi, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya kehadiran negara, keluarga, dan masyarakat dalam menjaga kesehatan mental serta keberlangsungan pendidikan anak.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Megawati Ungkap Rahasia Rekonsiliasi Konflik di Masa Pemerintahannya
• 15 jam lalujpnn.com
thumb
Profil Dini Kurniawati, Wanita yang Ngaku Mantan Istri Ressa Rizky Rossano, Kecewa Anaknya Tak Diakui
• 7 jam lalugrid.id
thumb
SCash Singapura Dukung Revitalisasi Usaha Komoditas dan Ekonomi Desa di Indonesia
• 16 jam lalutvrinews.com
thumb
Zodiak Masuki Fase Hidup Lebih Baik: Aries Fokus, Virgo Seimbang
• 4 jam lalugenpi.co
thumb
7 Kalimat yang Diucap Orang Pura-Pura Kaya, tapi Sebenarnya Tidak!
• 6 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.