Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin mengungkapkan beberapa negara telah mengalami krisis air bersih, termasuk di Indonesia. Krisis air ini terjadi karena terjadi pengeringan dan penggunaan air tanah yang berlebihan.
"Rasanya ada krisis. Jadi ada krisis air di mana bumi ini sudah semakin kering. Jadi ada beberapa yang menakutkan," ungkap dia dalam ESG Sustainability Forum 2026 CNBC Indonesia, Selasa (3/2/2026).
Arief memaparkan krisis air juga menjadi penyebab terjadinya banjir rob di beberapa wilayah di Utara Jawa. Untuk itu, perlunya penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG) yakni pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan eksploitasi air tanah yang berlebihan. Selain menyebabkan permukaan tanah di Jakarta menurun setiap tahun, sebagian air tanah di Ibu Kota ternyata juga telah terkontaminasi oleh zat yang berpotensi berbahaya bagi manusia.
"Ini harus dengan kesadaran tinggi dan dengan UU yang telah disepakati karena itu yang terjadi," kata dia.
Arief menerangkan saat ini pihaknya melakukan sistem pipanisasi air di wilayah Jakarta dan cakupannya mencapai 80%. Pipanisasi merupakan proses menghubungkan sumber air bersih ke pemukiman atau rumah tangga melalui jaringan pipa.
"Jadi memang ini sudah bergerak angkanya kenapa kita harus percepat? karena kita harus jaga Jakarta," tegas dia.
Sebab jika wilayah Jakarta tidak segera menerapkan sistem pipanisasi air secara menyeluruh, membawa dampak yang lebih besar terhadap kerusakan lingkungan.
"Tidak hanya menjadi isu lingkungan itu sendiri, tetapi tentang kehidupan manusianya. Air bersih itu kebutuhan dasar, 70% tubuh kita ini air bersih. Kalau kemudian kontaminasi airnya sudah tinggi, apalagi tadi bicara micro plastic, itu sudah sangat mengerikan," pungkas dia.
(rah/rah)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4820907/original/032177100_1714731078-1000191139-01.jpeg)


