Tak Lagi Andalkan Radio, NASA Siapkan Laser untuk Misi Artemis

mediaindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita

NASA bersiap menguji teknologi komunikasi berbasis laser dalam misi Artemis II, sebuah langkah untuk mendukung agenda ambisius eksplorasi Bulan dan rencana kehadiran manusia jangka panjang di permukaan satelit alami Bumi tersebut. Teknologi bernama Orion Artemis II Optical Communication System (O2O) ini akan diuji dalam penerbangan berawak.

Komunikasi Berpindah dari Radio Menjadi Laser

Selama ini, komunikasi wahana antariksa dengan Bumi mengandalkan sinyal radio. Meski sinyal tersebut bergerak dengan kecepatan cahaya, keterbatasan bandwidth membuat pengiriman data berukuran besar, seperti saat mengirim gambar dan video, sehingga membutuhkan waktu lebih lama. Selain itu, komunikasi antara Bumi dan Bulan juga mengalami jeda waktu pulang-pergi sekitar tiga detik.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, O2O menggunakan laser cahaya inframerah untuk mengirimkan suara, data misi, serta gambar dan video beresolusi tinggi kembali ke Bumi. Dalam misi Artemis II yang berlangsung sekitar 10 hari, NASA akan mengoperasikan sistem komunikasi radio konvensional secara bersamaan dengan teknologi laser ini. Artemis II menjadi kali kedelapan NASA melakukan eksperimen komunikasi laser di luar angkasa.

Baca juga : NASA Bersiap Hadapi Era Baru Eksplorasi Luar Angkasa dengan Empat Misi Krusial di 2026

Pengiriman Data jadi Lebih Cepat

Profesor teknik elektro dan komputer dari University of Southern California, Alan Willner, menilai O2O berpotensi memperkecil jarak komunikasi antara astronot di luar angkasa dan tim di Bumi. Menurutnya, Artemis II menjadi langkah besar dalam menghadirkan kemampuan komunikasi berkecepatan tinggi yang mampu mengikuti kebutuhan data misi modern.

Sementara itu, Markus Allgaier, dosen asosiasi fisika dan astrofisika di University of North Dakota, mengatakan komunikasi laser bukanlah teknologi baru. Namun, uji coba dalam penerbangan berawak ini menjadi kesempatan langka untuk melihat teknologi tersebut berfungsi langsung dalam misi nyata. Ia menyebut, meski telah dikembangkan lebih dari satu dekade, tidak semua demonstrasi teknologi akhirnya benar-benar diterbangkan dalam sebuah misi.

NASA berharap O2O memungkinkan pengiriman data dari luar angkasa dalam jumlah jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Berdasarkan hasil uji coba lain, sistem komunikasi laser terbukti mampu mengirim data lebih dari 100 kali lipat dibanding jaringan radio sebanding, bahkan dari jarak jutaan mil dari Bumi. Hal ini membuka peluang hadirnya siaran langsung berkualitas tinggi dari misi luar angkasa.

Baca juga : Peluncuran Artemis II Ditunda! Masalah Kebocoran Roket Hambat Manusia ke Bulan

Dalam penerbangan Artemis II, teknologi ini berpotensi menghadirkan gambar dan video dengan kualitas lebih baik dari wahana Orion, meski berada ratusan ribu mil dari Bumi. Namun, NASA mencatat tetap akan terjadi gangguan komunikasi sekitar 41 menit saat Orion melintas di sisi Bulan yang membelakangi Bumi. Ke depan, NASA mempertimbangkan penggunaan satelit relai yang mengorbit Bulan untuk menghilangkan jeda komunikasi tersebut.

Tidak Digunakan untuk Misi Artemis III

Meski demikian, teknologi O2O tidak akan digunakan dalam misi Artemis III yang direncanakan berlangsung tahun depan. NASA menyatakan, meski komunikasi laser belum diterapkan pada Artemis III, sistem O2O berpotensi membuka jalan bagi pengembangan teknologi serupa untuk misi ke Bulan dan Mars di masa mendatang.

Allgaier menilai komunikasi laser akan menjadi elemen penting bagi misi luar angkasa jarak jauh, mengingat keterlambatan komunikasi di jarak ekstrem menjadi tantangan besar. Ia menambahkan, peningkatan jumlah data sains dan komunikasi awak akan membuat publik di Bumi dapat mengikuti misi antariksa dengan lebih dekat dibanding sebelumnya.

Tak hanya bermanfaat untuk eksplorasi luar angkasa, teknologi ini juga diyakini akan berdampak di Bumi. Willner dan Allgaier menyebut, jika komunikasi laser diterapkan pada satelit cuaca, komunikasi, dan penginderaan jauh, teknologi ini berpotensi meningkatkan akurasi prakiraan cuaca hingga menghadirkan kecepatan data yang lebih tinggi untuk perangkat komunikasi sehari-hari. (ABCNews/Z-2)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dipanggil Polda Metro Jaya Atas Kasus Mens Rea, Pandji Pragiwaksono: Saya Tidak Akan Menghindar
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Purbaya Bilang Pengunduran Diri Bos BEI dan OJK Pertanda Baik
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Serapan Beras Naik 700 Persen di Awal 2026, Kepala Bapanas Buka Peluang Ekspor
• 5 jam lalujpnn.com
thumb
Purbaya Sebut Proyek Gentengisasi Telan Anggaran di Bawah Rp1 Triliun
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
Respons Muhammadiyah-NU Usai Bertemu Prabowo Soal Indonesia Gabung BOP
• 19 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.