CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Badan Pusat Statistik, Senin lalu merilis data bulanan Indeks Harga Kounsumen (IHK) pada Januari 2026 tercatat minus alias deflasi sebesar 0,15% (mtm).
Sebanyak 18 daerah mencatat deflasi, sedangkan yang mengalami deflasi 20 daerah. Dalam perhitungan IHK, BPS melakukan survei harga barang dan jasa kebutuhan masyarakat di 150 kota seluruh Indonesia.
Perkembangan ini menurut penilaian Bank Indonesia, dipengaruhi oleh inflasi inti yang secara umum terkendali serta deflasi pada kelompok volatile food dan administered prices.
Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK secara tahunan (Januari 2026 terhadap Januari 2025) tercatat 3,55% (yoy), sedikit meningkat dibandingkan realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 2,92% (yoy).
"Bank Indonesia meyakini inflasi 2026 dan 2027 secara tahunan akan menurun sehingga tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1%," demikian pernyataan Bank Indonesia yang dirilis Direktur Eksekutif pada Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso merespon perkembangan harga konsumen BPS tersebut.
Prakiraan ini, menurut BI, didukung konsistensi kebijakan moneter dan eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah (Pusat dan Daerah) dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID), penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional, dan berakhirnya pengaruh base effect akibat rendahnya inflasi Januari 2025 karena implementasi kebijakan diskon tarif listrik.
Inflasi Inti Terkendali
Inflasi inti pada Januari 2026 tercatat sebesar 0,37% (mtm), sedikit lebih tinggi dari realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,20% (mtm). Perkembangan inflasi inti tersebut dipengaruhi kenaikan harga komoditas emas global, di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga.
Realisasi inflasi inti pada Januari 2026 disumbang terutama komoditas emas perhiasan, sewa rumah, dan sepeda motor. Secara tahunan, inflasi inti Januari 2026 tercatat sebesar 2,45% (yoy), meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 2,38% (yoy).
Volatile Food Deflasi
Kelompok volatile food pada Januari 2026 mengalami deflasi 1,96% (mtm), padahal realisasi bulan sebelumnya terjadi inflasi 2,74% (mtm).
Deflasi kelompok volatile food disumbang terutama oleh komoditas cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah seiring dengan peningkatan pasokan pada masa panen.
Secara tahunan, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 1,14% (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 6,21% (yoy).
Ke depan, inflasi volatile food diprakirakan terkendali didukung eratnya sinergi antara Bank Indonesia bersama TPIP dan TPID dan penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional.
Administered Prices Deflasi
Kelompok administered prices pada Januari 2026 mengalami deflasi sebesar 0,32% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,37% (mtm).
Komoditas penyumbang deflasi bulanan administered prices terutama bensin, tarif angkutan udara, dan tarif angkutan antarkota akibat penurunan harga BBM nonsubsidi dan normalisasi mobilitas pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.
Secara tahunan, kelompok administered prices tercatat inflasi sebesar 9,71% (yoy), lebih tinggi dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,93% (yoy), terutama diakibatkan oleh faktor base effect seiring implementasi kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50% pada Januari-Februari 2025.


