Jakarta, tvOnenews.com — Pemerintah Indonesia menyiapkan langkah besar di sektor lingkungan hidup dengan menargetkan reboisasi atau penghijauan kembali terhadap 12,7 juta hektare lahan kritis dan hutan rusak.
Kebijakan tersebut disebut sebagai game changer yang menandai keseriusan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam agenda lingkungan dan konservasi.
Hal itu disampaikan Utusan Khusus Presiden RI untuk Energi dan Lingkungan Hidup Hashim Djojohadikusumo saat berbicara dalam Indonesia Economic Summit 2026 di Shangri-La Jakarta, Rabu (4/2/2026).
“Beliau (Prabowo Subianto) menyebutkan bahwa adalah niat pemerintah Indonesia untuk melakukan reboisasi (penghijauan kembali) terhadap 12,7 juta hektar lahan kritis, hutan yang rusak. Jadi itu adalah sebuah perubahan besar (game changer),” ujar Hashim.
Hashim menegaskan komitmen tersebut bukan sekadar wacana, melainkan dibuktikan dengan kebijakan konkret. Ia menyebut Presiden Prabowo konsisten menjalankan prinsip walking the talk.
“Beliau membuktikan ucapannya dengan tindakan (walking the talk) seperti kata orang Amerika. Ini bukan sekadar omon-omon ya? Jika orang Indonesia bilang omon-omon, ini bukan omon-omon. Beliau benar-benar membuktikan ucapannya,” tegasnya.
Sebagai bukti nyata, Hashim mengungkapkan pemerintah telah mengumumkan alokasi anggaran besar untuk konservasi satwa liar dan kawasan lindung.
Pengumuman tersebut disampaikan di London dua minggu lalu saat Hashim mendampingi Presiden Prabowo.
“Kami mengumumkan di London dua minggu lalu bahwa pemerintah Indonesia akan mengalokasikan US$120 juta atau Rp2 triliun untuk konservasi dan pengembangan, pemeliharaan Cagar Alam Way Kambas di Lampung,” kata Hashim.
Way Kambas merupakan kawasan konservasi strategis yang menjadi habitat satwa langka dan terancam punah termasuk Gajah Sumatera dan Badak Sumatera.
“Ini adalah Way Kambas adalah area konservasi untuk gajah, untuk Badak Sumatera. Badak Sumatera yang terancam punah dan spesies terancam punah lainnya,” jelasnya.
Hashim menekankan pendanaan tersebut sepenuhnya berasal dari anggaran Indonesia, bukan dari donor asing.
Menurutnya, hal ini menjadi penanda kuat komitmen negara dalam menjaga kelestarian alam.
“Jadi ini adalah bukti nyata. Ini menempatkan uang asli Indonesia—ini bukan uang donor—ke dalam konservasi, pelestarian dan pengembangan area konservasi alam yang sangat penting,” pungkas Hashim. (agr/nsi)

