Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas menguat selama dua hari berturut-turut dan kembali menembus level US$5.000 per troy ounce, seiring dengan aksi beli saat harga turun (buy on dip) setelah logam mulia tersebut mengalami kejatuhan historis dari rekor tertinggi.
Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (4/2/2026), harga emas di pasar spot naik 2,75% menjadi US$5.082,89 per troy ounce. Sementara itu, harga emas Comex tercatat naik 3,35% ke level US$5.100,10.
Penguatan terjadi setelah emas melonjak lebih dari 6% pada sesi sebelumnya, di tengah kembalinya sentimen risk-on di pasar global serta melemahnya dolar Amerika Serikat.
Meski mulai mencatatkan pemulihan, harga emas masih sekitar 12% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada 29 Januari. Adapun, secara year to date, emas masih mencatatkan kenaikan hampir 15%. Harga perak turut menguat.
“Penjualan paksa di pasar logam mulia kemungkinan telah mencapai puncaknya,” ujar Senior Commodity Strategist TD Securities, Daniel Ghali, dalam catatannya.
Namun, menurutnya, volatilitas tinggi sepanjang sepekan terakhir berpotensi membuat investor ritel menahan diri, sehingga menghilangkan salah satu kelompok pembeli yang kian penting di pasar.
Harga logam mulia sempat melonjak tajam pada bulan lalu, didorong momentum spekulatif, ketegangan geopolitik, serta kekhawatiran terhadap independensi bank sentral AS, Federal Reserve. Namun, sejumlah pelaku pasar telah mengingatkan bahwa reli tersebut berlangsung terlalu cepat dan terlalu tinggi.
Lonjakan harga itu berakhir mendadak pada akhir pekan lalu. Harga perak mencatatkan penurunan harian terbesar sepanjang sejarah, sementara emas mengalami kejatuhan terdalam sejak 2013.
Sebelumnya, dana asal China dan investor ritel Barat telah membangun posisi besar di pasar logam mulia. Tekanan semakin meningkat ketika investor berbondong-bondong masuk ke produk exchange-traded fund (ETF) berleverage serta opsi beli (call options). Kejatuhan tajam yang terjadi pada jam perdagangan Asia, Jumat lalu, berlanjut hingga awal pekan ini.
Bank of America Corp. memperkirakan volatilitas di pasar logam mulia masih akan tetap tinggi. Head of EMEA Commodities Trading BofA, Niklas Westermark, menilai emas memiliki tesis investasi jangka panjang yang lebih kuat dibandingkan perak.
Menurutnya, meski harga yang tinggi dan gejolak pasar dapat memengaruhi ukuran posisi investor, hal tersebut tidak akan meredam minat investasi secara keseluruhan.
Sejumlah bank juga masih optimistis terhadap prospek emas. Deutsche Bank AG pada Senin menegaskan tetap mempertahankan proyeksinya bahwa harga emas berpeluang naik hingga US$6.000 per troy ounce.





