Kasus tragis siswa kelas IV SD, YBR (10) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menggugah perhatian banyak pihak.
Bocah tersebut diduga bunuh diri dengan menggantungkan diri, dan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya. Surat itu di tulis menggunakan bahasa daerah Bajawa, Satu baris surat itu berisi ungkapan kekecewaan korban terhadap ibunya. Dalam surat itu, YBR menyebut ibunya pelit. Selebihnya, surat itu berisi ungkapan perpisahan kepada ibunya.
Tanggapan Waka Komisi XIII DPR RIWakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira meminta agar kasus bocah SD yang mengakhiri hidupnya secara tragis tidak terulang lagi.
Menurutnya, meski negara belum mampu mengentaskan kemiskinan secara total, keluarga dan lembaga masyarakat seharusnya turut prihatin untuk bertanggung jawab atas timbulnya kondisi tersebut.
"Semoga dari peristiwa kita semua di bangsa ini, di masyarakat ini sadar, sehingga tidak terjadi lagi," kata Andreas di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Andreas meminta polisi segera melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban. Ia juga meminta pemerintah daerah dapat mendampingi keluarga korban.
Bagimanapun, ungkapnya, kasus tersebut menjadi peringatan keras bagi semua pihak, karena bocah itu diduga mengalami keputusasaan akibat kurangnya perhatian dan kasih sayang, baik dari lingkungan keluarga maupun masyarakat.
"Tanggung jawab sosial kita seharusnya terusik untuk menjadi tumpuan menyelamatkan generasi anak-anak ini untuk tumbuh dewasa," ujarnya.




