TABLOIDBINTANG.COM - Setelah absen dari dunia perfilman selama 11 tahun, Imran Khan akhirnya kembali ke layar lebar lewat penampilan singkat (cameo) dalam film Happy Patel. Tak hanya itu, aktor yang dikenal lewat film Jaane Tu.. Ya Jaane Na tersebut juga akan tampil dalam film Adhoore Hum Adhoore Tum yang turut ia produseri, dengan Danish Aslam sebagai sutradara.
Selama bertahun-tahun menjauh dari industri film, Imran Khan lebih banyak berfokus pada kesehatan mentalnya. Kini, ia juga dikenal sebagai salah satu figur publik yang vokal menyuarakan pentingnya kesadaran kesehatan mental agar orang lain merasa lebih nyaman untuk terbuka mengenai hal tersebut.
Di tengah perjalanan tersebut, Imran juga melewati fase sulit berupa perceraian dengan Avantika Malik. Keduanya sempat berpacaran selama beberapa tahun sebelum menikah pada 2011, lalu memutuskan berpisah pada 2019. Kini, Imran mengaku telah melalui proses penyembuhan dan berada dalam kondisi yang jauh lebih baik. Saat ditanya mengenai perasaannya saat ini, ia tersenyum dan mengatakan, “Semakin membaik setiap hari.”
Dalam perbincangan hangat dan jujur bersama Etimes, Imran berbicara terbuka mengenai hidupnya, dunia perfilman, kesehatan mental, hingga keputusan besar untuk mengakhiri pernikahannya.
Imran mengungkapkan bahwa titik balik kesadarannya terjadi sekitar 2016. “Ibu saya seorang psikoanalis, jadi paparan saya terhadap isu kesehatan mental dan percakapan seputarnya cukup terbuka dan bebas stigma. Itu menjadi keuntungan bagi saya karena saya tidak membawa banyak beban,” ujarnya. Ia mulai menjalani terapi intensif pada 2016 hingga 2018, sembari menjalani peran sebagai orang tua secara penuh waktu dan berfokus pada pemulihan dirinya.
Lebih lanjut, Imran menyadari bahwa dinamika hubungannya dengan sang pasangan saat itu tidak sehat. Ia menilai, hubungan yang dimulai pada usia sangat muda membuat keduanya belum memiliki pemahaman matang tentang relasi yang sehat. “Saat berusia 18 atau 19 tahun, kita belum cukup memiliki pengalaman hidup untuk membedakan dinamika hubungan yang sehat dan tidak sehat. Baru ketika saya menjadi lebih sadar dan reflektif, saya menyadari bahwa kami terjebak dalam pola yang tidak bisa kami perbaiki atau ubah, karena perubahan itu membutuhkan usaha dari dua pihak,” jelasnya.
Imran juga menegaskan bahwa keputusan untuk bercerai justru menjadi titik balik terpenting dalam perjalanan kesehatan mentalnya. Ia membantah anggapan bahwa perceraiannya memicu krisis mental. “Faktanya, masa terburuk justru terjadi pada tahun-tahun terakhir pernikahan saya. Keputusan untuk mengakhiri pernikahan itulah yang menjadi titik balik dan memungkinkan saya untuk benar-benar pulih dan membaik,” ungkapnya.
Menurut Imran, meski perpisahan selalu menyakitkan—baik bagi pasangan, keluarga, maupun anak—hal tersebut tetap lebih baik dibandingkan mempertahankan hubungan yang tidak sehat. “Melanggengkan pola yang tidak sehat hanya akan merusak semua pihak dan memberi contoh yang salah bagi anak. Luka dan trauma akibat perpisahan masih lebih baik dibandingkan tumbuh dalam lingkungan yang tidak sehat,” tutupnya.




