PT Krakatau Steel (Persero) menyoroti rendahnya tingkat utilisasi kapasitas industri baja nasional yang hingga kini rata-rata masih berada di bawah 60 persen. Direktur Utama PT Krakatau Steel, Akbar Djohan, menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh membanjirnya produk baja murah asal China di pasar domestik.
“Memang rata-rata tingkat utilisasi pabrik baja nasional kita itu di bawah daripada 60 persen. Dan ini tidak lain banyak faktor diisi oleh produk-produk baja murah dari China. Telah kami hitung kurang lebih potensi daripada impor Indonesia, dari kebutuhan baja kurang lebih ekuivalen hampir mencapai 80 triliun rupiah per tahun,” jelas Akbar dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (4/2).
Ia menekankan, ketidakpastian global turut memperberat persaingan industri baja nasional. Persaingan tersebut dinilai tidak lagi bersifat antarpelaku usaha atau perusahaan semata, melainkan telah bergeser menjadi persaingan antarpemerintah.
“Bagaimana pemerintah US (Amerika Serikat) menetapkan resiprokal tax bukan hanya 19 persen tetapi khusus untuk baja, Donald Trump menerapkan tambahan additional kurang lebih 50 persen impor Baja yang masuk di negara USA. Juga dilakukan hal yang sama di negara Korea, India, dan juga bahkan Jepang,” kata Akbar.
Ia kemudian menyinggung adanya fenomena penutupan pabrik baja dalam negeri. Salah satunya adalah rencana penghentian operasi joint venture Krakatau Steel, yakni Krakatau Osaka Steel, yang dijadwalkan tutup pada April mendatang.
“Sebelumnya kurang lebih bulan Oktober itu juga terjadi penutupan pabrik long product di Surabaya, Jawa Timur, Ispatindo, ini merupakan milik daripada raja baja di dunia yaitu Mittal Steel Group,” lanjutnya.
Ia menambahkan, kondisi ini menjadi ironis mengingat dalam waktu dekat berbagai proyek strategis nasional Presiden Prabowo Subianto, seperti program pembangunan tiga juta rumah, Makan Bergizi Gratis (MBG), dan Koperasi Desa Merah Putih, akan membutuhkan pasokan baja yang besar dan seharusnya dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri.
Selain itu, ia juga mengatakan China tidak lagi hanya mengekspor produk baja ke Indonesia, tetapi juga telah melakukan relokasi pabrik ke dalam negeri sejak sekitar 10 hingga 12 tahun lalu dengan memanfaatkan teknologi induction furnace.
“Tentu induction furnace ini yang kemarin juga ada hubungannya dengan mengimport scrap yang tercemar bahan nuklir. Sehingga ini dampaknya bisa ke mana-mana,” tutur Akbar.
Oleh karena itu, ia menilai seluruh kementerian, pelaku industri, dan legislatif untuk bersama-sama melakukan transformasi khususnya dalam penataan tata niaga impor guna melindungi dan memperkuat industri baja nasional.
“Yaitu bagaimana menjadikan Krakatau Steel ini sebagai one-stop services untuk pemenuhan kebutuhan baja seluruh proyek strategi nasional. Yang kedua adalah bagaimana percepatan proses pengenaan, biar masuk anti-dumping, biar masuk imbalan dan biar masuk tindakan pengamanan,” sebut Akbar.
Adapun Akbar mencatat, sepanjang satu tahun terakhir kinerja perusahaan menunjukkan kinerja membaik. Pendapatan tercatat meningkat sebesar 0,4 persen dibandingkan 2024 dengan nilai mencapai USD 955 juta pada 2025. Volume penjualan baja juga mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 29 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yakni sekitar 945 ribu ton.
“Dari sisi ekuitas kami tumbuh 99,4 persen dibanding 2024 dengan nilai kurang lebih 868 juta US dollar,” sebut Akbar.




