Serangan Rusia Tewaskan 12 Penumpang Bus Ukraina, Putaran Baru Dialog Damai Dikonfirmasi

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia Militer Rusia pada 1 Februari menyerang sebuah bus yang mengangkut para pekerja sektor energi, menewaskan 12 orang. Namun demikian, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Senin (2 Februari) menyatakan bahwa Rusia pada dasarnya telah mematuhi kesepakatan gencatan senjata yang melindungi infrastruktur energi Ukraina. 

Sementara itu, baik Ukraina maupun Rusia mengkonfirmasi bahwa putaran baru perundingan tiga pihak akan digelar pada 4 dan 5 Februari di Uni Emirat Arab. Selain itu, perjanjian pengendalian senjata nuklir AS–Rusia akan berakhir dalam tiga hari. Presiden Rusia Vladimir Putin mengusulkan perpanjangan perjanjian selama satu tahun, dan bagaimana Presiden Trump akan mengambil keputusan menjadi sorotan utama opini publik.

Serangan Udara Rusia ke Bus Ukraina Tewaskan 12 Orang, Perundingan Baru Segera Dimulai

Sebuah bus yang hancur dan jasad korban yang berserakan—sebuah video yang beredar pada Senin memperlihatkan secara jelas kengerian di lokasi pasca serangan udara. Di wilayah Dnipropetrovsk, Ukraina tenggara, sebuah bus yang mengangkut para penambang diserang drone Rusia pada 1 Februari, menyebabkan setidaknya 12 orang tewas dan 16 orang luka-luka.

Perusahaan energi swasta terbesar Ukraina, DTEK, menyatakan bahwa para korban merupakan karyawan yang sedang dalam perjalanan pulang setelah bekerja. Ini merupakan jumlah korban tewas terbanyak dalam satu hari di antara karyawan perusahaan tersebut sejak perang meletus.

Pada hari yang sama, sebuah rumah sakit bersalin di Zaporizhzhia juga dibom oleh pasukan Rusia, mengakibatkan enam orang terluka. Saat serangan terjadi, dua perempuan sedang menjalani proses persalinan.

Seorang perawat, Zvurska, mengatakan: “Saya masih merasa sangat terguncang. Ini sungguh menyakitkan.”

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, mengecam serangan-serangan tersebut, dengan mengatakan bahwa hal ini menunjukkan Putin mengabaikan upaya perdamaian dan terus melancarkan perang terhadap warga sipil.

Sementara itu, Ukraina bekerja sama dengan Starlink untuk melawan drone Rusia dan telah mencapai hasil yang cepat dan signifikan. Elon Musk mengkonfirmasi melalui unggahannya bahwa langkah-langkah yang diambil SpaceX untuk mencegah Rusia menggunakan jaringan Starlink secara tidak sah telah berhasil.

Diplomasi: Perundingan tiga pihak akan digelar di Abu Dhabi

Dalam bidang diplomasi, Presiden Ukraina Zelensky pada Senin kembali menegaskan bahwa putaran baru perundingan tiga pihak akan dilanjutkan pada 4 dan 5 Februari di Abu Dhabi, dan Ukraina siap untuk melakukan perundingan substantif.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berkata: “Delegasi kami sudah berangkat. Pembicaraan akan berlangsung pada hari Rabu dan Kamis ( 4 dan 5 Februari). Tidak hanya perundingan tiga pihak, tetapi juga pertemuan bilateral dengan Amerika Serikat.”

Kremlin pada Senin juga mengkonfirmasi kabar tersebut, seraya menyatakan bahwa Rusia dan Ukraina telah memperkecil perbedaan pendapat dalam beberapa isu, namun pada sejumlah persoalan yang dinilai lebih kompleks, belum tercapai kemajuan serupa.

Wakil Ketua Dewan Keamanan Federasi Rusia, Dmitry Medvedev, dalam sebuah wawancara menyatakan bahwa usulan negara-negara besar Eropa untuk menempatkan pasukan negara anggota NATO di Ukraina sebagai bagian dari jaminan keamanan dan perjanjian damai tidak dapat diterima oleh Rusia.

Medvedev mengatakan: “Saya tidak ingin situasi semakin meningkat, tetapi kondisi saat ini sangat berbahaya.”

Medvedev telah berulang kali mengecam Kyiv dan negara-negara Barat, serta mengancam bahwa konflik tersebut dapat meningkat hingga ke perang nuklir.

Putin usulkan perpanjangan perjanjian nuklir AS–Rusia, Trump hadapi keputusan besar

Selain itu, Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin menyatakan bahwa jika Presiden Trump setuju untuk memperpanjang perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara AS dan Rusia selama satu tahun, ia juga siap melakukannya.

Perjanjian New START (New Strategic Arms Reduction Treaty) membatasi jumlah hulu ledak nuklir Amerika Serikat dan Rusia masing-masing hingga 1.550 unit, dan perjanjian ini akan berakhir dalam tiga hari pada 5 Februari.

Para pengamat menilai bahwa apakah perjanjian ini akan diperpanjang atau dibiarkan berakhir akan menjadi keputusan besar pertama terkait senjata strategis sejak Trump kembali ke Gedung Putih. 

Pendukung berakhirnya perjanjian berpendapat bahwa tanpa batasan perjanjian, Amerika Serikat dapat mengembangkan kemampuan nuklirnya untuk menghadapi arsenal nuklir Tiongkok yang terus berkembang, sekaligus meningkatkan daya tangkal terhadap Rusia. Namun para penentang memperingatkan bahwa langkah tersebut berisiko memicu perlombaan senjata nuklir.

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yi Jing.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Warga Keluhkan Galian di Jalan Raya Pondok Gede: Saluran Mampet dan Jalan Licin
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Kelenteng Tua Penanda Harmoni Budaya di Yogyakarta
• 7 jam lalukompas.id
thumb
PSI Gowa Tancap Gas, Rampungkan Struktur DPRT
• 1 jam laluharianfajar
thumb
Panduan Lengkap Daftar Akun SNPMB 2026 dan Jadwal Cetak Kartu SNBP 2026
• 11 jam lalusuara.com
thumb
Eks petinggi badan penasihat China dihukum seumur hidup karena suap
• 18 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.