Kelenteng Tua Penanda Harmoni Budaya di Yogyakarta

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

Semerbak bau wangi tercium dari hio berbentuk spiral yang dibakar di sisi barat Kelenteng Kwan Tee Kiong, Yogyakarta, Selasa (3/2/2026). Pada bagian sayap kelenteng yang berjarak 240 meter dari Monumen Tugu terlihat seorang warga Tionghoa yang tekun membersihkan abu sisa pembakaran hio pada salah satu altar di tempat ibadah itu.

Pembersihan altar tersebut merupakan bagian dari persiapan menyambut Imlek. Selain kegiatan itu, belum tampak aktivitas persiapan khusus lainnya di tempat tersebut meski Tahun Baru China kian dekat.

”Tahun ini perayaan Imlek di sini lebih sederhana, tidak seperti beberapa tahun lalu yang lebih meriah,” ujar pengelola Kelenteng Kwan Tee Kiong, Margo Mulyo. Menurut dia, hal tersebut terkait kondisi perekonomian masyarakat yang sedang kurang baik.

Meski selama beberapa tahun terakhir perayaan Imlek di kelenteng itu digelar tanpa festival besar-besaran, warga Tionghoa yang bernaung pada Kelenteng Kwan Tee Kiong tetap menyambut Imlek dengan penuh sukacita. Bagi mereka, Tahun Baru China merupakan momen untuk melambungkan doa dan harapan akan kehidupan yang lebih baik pada tahun mendatang.

Kelenteng yang juga dikenal dengan nama Kelenteng Poncowinatan tersebut mulai dibangun pada 1881 dan tergolong sebagai bangunan cagar budaya. Lokasi kelenteng itu berada tepat di sisi utara Pasar Kranggan dan berdiri di atas lahan yang dihibahkan oleh Raja Keraton Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono VII.

Pada lahan tersebut juga pernah didirikan sekolah dasar Tionghoa modern dengan nama Tiong Hoa Hwee Koan (THHK). Sekolah yang didirikan pada 1907 itu hanya berumur singkat dan terpaksa dibubarkan pada 1938 karena pengaruh tekanan dari pihak Belanda pada masa itu.

Sebagai kelenteng tertua di Yogyakarta, Kwan Tee Kiong menjadi salah satu tempat tujuan utama umat Tridharma yang hendak beribadah di kawasan pusat Kota Yogyakarta. Sebagian warga Tionghoa lainnya beribadah di Kelenteng Fuk Ling Miau yang juga telah berusia lebih dari satu abad.

Kelenteng Fuk Ling Miau terletak sekitar 850 meter dari Keraton Yogyakarta. Lokasinya yang berada di perempatan Gondomanan membuat Kelenteng Fuk Ling Miau lebih banyak dikenal dengan sebutan Kelenteng Gondomanan.

Fuk Ling Miau memiliki arti ’kelenteng berkah tiada tara’. Kelenteng tersebut juga didirikan di atas tanah yang dihibahkan oleh Keraton Yogyakarta pada tahun 1900.

Sejumlah perbaikan terus dilakukan untuk melestarikan bangunan cagar budaya yang berlokasi strategis itu. Pada 2025, misalnya, dilakukan perbaikan pada balok penyangga atapnya.

Saat bulan Ramadhan atau menjelang Imlek, Kelenteng Kwan Tee Kiong dan Fuk Ling Miau kerap membagikan bahan makanan pokok gratis kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan. Kelenteng Poncowinatan dan Kelenteng Gondomanan pun terus dijaga keberadaannya sebagai salah satu penanda lini masa perkembangan masyarakat Tionghoa di Yogyakarta, sekaligus menjadi penanda harmoni kehidupan masyarakat lintas budaya di kota tersebut.

 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Gubernur NTT soal Siswa SD Bunuh Diri: Anak Sekecil Itu Harusnya Tak Jadi Korban
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Israel Dorong AS Serang Iran, Trump Masih Ragu
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Doktif Yakin Polda Metro Jaya Kantongi Banyak Bukti Lawan Richard Lee
• 8 jam lalugrid.id
thumb
Wali Kota Jaksel Resmikan Taman Bermain Literasi dan Pojok Baca untuk Tingkatkan Minat Baca Anak
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Terungkap! UEA Mau Kuasai Gaza, Disebut Dapat Dukungan Israel
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.