Tragedi Sang Pewaris: Perjalanan Anak Muammar Khadafi, Saif al-Islam, dari LSE London hingga Ajal di Zintan

mediaindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita

PEMBUNUHAN anak Muammar Khadafi, Saif al-Islam Khadafi, pada Februari 2026 bukan sekadar berita kriminalitas politik biasa. Ini adalah penutup dari narasi panjang seorang pria yang terjepit di antara dua dunia: demokrasi Barat yang ia pelajari di London dan kekuasaan absolut ayahnya, Muammar Khadafi, di Tripoli, Libya.

Timeline Perjalanan Hidup Saif al-Islam: 2008 Meraih gelar PhD dari London School of Economics (LSE). 2011 Revolusi Libya meletus; Saif ditangkap milisi di Zintan saat mencoba kabur ke Niger. 2015-2021 Dijatuhi hukuman mati (in absentia), kemudian dibebaskan oleh milisi Zintan namun tetap dalam pengawasan. 2026 Tewas dalam operasi senyap komando bertopeng di kediamannya, Zintan.
Intelektual yang Terjebak dalam Pusaran Revolusi

Anak Muammad Khadafi tersebut pernah dianggap sebagai "Harapan Barat". Disertasinya di LSE membahas tentang peran masyarakat sipil dalam demokratisasi. Namun, saat krisis 2011 menghantam, ia justru muncul di televisi nasional dengan pidato yang mengancam para demonstran, sebuah langkah yang menghancurkan reputasi internasionalnya dalam semalam.

Selama belasan tahun setelah kejatuhan ayahnya, Saif hidup dalam ketidakpastian di Zintan. Meski secara fisik menjadi tahanan, ia secara politik tetap aktif menjalin komunikasi dengan berbagai faksi, bahkan sempat mendaftarkan diri sebagai calon presiden pada pemilu yang terus tertunda.

Baca juga : Kronologi Lengkap Pembunuhan Anak Muammar Khadafi, Saif al-Islam Khadafi, di Zintan Libya

Akhir Tragis di Zintan

Laporan intelijen menyebutkan bahwa Saif al-Islam dieksekusi oleh unit komando profesional yang mengetahui celah keamanan di rumah persembunyiannya. Tidak ada teriakan atau perlawanan berarti; operasi tersebut berlangsung senyap dan mematikan. Dengan kematiannya, harapan para loyalis "Hijau" (pendukung Khadafi) untuk kembali berkuasa kini berada di titik nadir.

"Dia mati membawa rahasia besar tentang kekayaan dan jaringan ayahnya yang masih tersisa di luar negeri," tulis analisis intelijen regional.

Kini, Libya berdiri di persimpangan jalan tanpa sosok Saif al-Islam. Apakah kematiannya akan meredakan ketegangan, atau justru memicu gelombang balas dendam baru dari suku-suku pendukungnya, hanya waktu yang akan menjawab. (H-3)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Paulus Tannos Kembali Ajukan Praperadilan, KPK Pastikan Tak Hambat Proses Ekstradisi
• 18 jam lalukompas.id
thumb
Mendagri Tito Karnavian Sebut Misi Pascabencana di Aceh Tamiang sebagai Praktik Nyata Praja IPDN dan ASN
• 23 jam laluliputan6.com
thumb
Terkuak! Setelah Diakui sebagai Anak Denada, Ressa Ternyata Sudah Pernah Menikah dan Punya Momongan
• 6 jam lalugrid.id
thumb
Bojan Hodak Blak-blakan soal Rumor Ragnar Oratmangoen ke Persib
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Rekaman Detik-Detik Mobil Terbakar Usai Kecelakaan di Tol Jagorawi, Dua Orang Terluka | SAPA PAGI
• 4 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.