BOGOR, KOMPAS.com — Coretan cat semprot di dinding halte, tulisan inisial pada jembatan penyeberangan orang, hingga bangku taman yang dipenuhi goresan kini semakin mudah ditemui di berbagai sudut Kota Bogor.
Aksi vandalisme itu perlahan menggerogoti wajah ruang publik, muncul di titik-titik strategis yang setiap hari dilalui warga.
Alih-alih menjadi ruang bersama yang tertata dan nyaman, sejumlah fasilitas umum justru terlihat semrawut dan kurang terawat akibat ulah tangan-tangan tak bertanggung jawab.
Fenomena ini tak hanya merusak estetika kota, tetapi juga memengaruhi rasa aman dan kenyamanan masyarakat.
Baca juga: Coretan Grafiti Tak Selalu Vandalisme, tapi Wadah Ekspresi dan Kritik Sosial
Salah satu potret vandalisme tampak di Halte IPB MM. Bangunan bercat biru yang seharusnya menjadi tempat berteduh penumpang itu terlihat rusak di sejumlah sisi.
Panel kaca atau mika di dinding halte pecah dengan lubang menganga di bagian tengah. Sebagian lainnya retak, dipenuhi goresan serta coretan cat semprot berwarna biru tua yang membentuk huruf-huruf tak jelas.
Tulisan-tulisan tersebut menimpa permukaan halte yang sebelumnya polos. Di bagian belakang dan samping, grafiti berupa inisial kelompok dicoret tanpa pola dan konsep.
Pantauan Kompas.com juga mencatat aksi vandalisme tidak hanya terjadi di Halte IPB MM. Coretan menggunakan cat semprot ditemukan di Halte Jambu Dua serta di sejumlah titik sepanjang Jalan Pajajaran.
Seperti diketahui, vandalisme merupakan sebutan untuk perbuatan merusak, mencoret, atau menghancurkan fasilitas milik umum maupun pribadi tanpa izin dan tanpa dasar yang dapat dibenarkan.
Selain merusak keindahan kota, aksi vandalisme juga berdampak langsung pada rasa aman dan nyaman masyarakat yang menggunakan ruang publik tersebut.
Baca juga: Wajah Ganda Grafiti Jakarta: Antara Ekspresi Anak Muda dan Vandalisme
Bukan yang pertama kaliBagi Nanda (28), warga yang kerap melintasi kawasan Halte IPB MM, pemandangan seperti ini bukan hal baru. Ia mengaku hampir setiap pekan melihat coretan baru di berbagai fasilitas umum di Kota Bogor.
Menurut dia, halte dan jembatan penyeberangan orang menjadi lokasi yang paling sering menjadi sasaran vandalisme.
Nanda menilai pola yang terjadi hampir selalu sama. Vandalisme, kata dia, bukan lagi insiden sporadis, melainkan sesuatu yang seolah dibiarkan berulang.
"Hampir setiap minggu saya lihat. Terutama halte, pasti ada saja coretan baru. Kadang baru dicat ulang, dua tiga hari kemudian sudah penuh lagi. bukan kejadian sekali dua kali, tapi sudah seperti hal biasa," kata dia saat ditemui di lokasi, Selasa (3/2/2026).
Ia juga menuturkan, bentuk vandalisme yang ditemuinya beragam, tidak hanya berupa tulisan, tetapi juga perusakan fisik pada fasilitas.
"Biasanya tulisan nama geng atau inisial pakai cat semprot. Ada juga gambar-gambar enggak jelas. Selain itu kadang kursi halte dicoret pakai spidol atau stiker ditempel sembarangan. Jadi sampai ke fasilitasnya," ungkapnya.
Baca juga: Polisi Periksa 5 Orang Saksi dalam Kasus Vandalisme di Balai Kota Bogor
Tidak nyaman dan kumuhNanda mengaku kondisi tersebut memengaruhi kenyamanannya saat menggunakan fasilitas umum.
Menurut dia, halte atau ruang publik yang penuh coretan menghadirkan kesan semrawut dan kurang terurus, jauh dari harapan masyarakat terhadap fasilitas yang dibangun pemerintah.
Ia mengatakan, ruang publik semestinya menjadi tempat yang netral dan nyaman bagi siapa pun.
Namun, ketika dindingnya dipenuhi tulisan tak jelas, muncul rasa tidak aman, terutama saat harus menunggu sendirian pada sore atau malam hari.
"Terlihat kumuh dan enggak terawat, padahal itu ruang publik. Jadi kesannya kayak enggak ada yang peduli," kata dia.
Menurut Nanda, kondisi fisik yang rusak sedikit banyak memengaruhi persepsi orang terhadap keamanan suatu tempat.
"Iya, sedikit banyak berpengaruh. Kalau tempatnya penuh coretan dan terlihat rusak, rasanya seperti area yang rawan," katanya.
Baca juga: Polisi Periksa 5 Orang Saksi dalam Kasus Vandalisme di Balai Kota Bogor


