GRESIK – Kabupaten Gresik menorehkan prestasi signifikan dalam upaya nasional memerangi stunting. Melalui implementasi terstruktur Program Pemantauan Gizi Anak Stunting (PEGAS), daerah yang dikenal sebagai kawasan industri ini berhasil mencatat penurunan angka stunting sebesar 26,79 persen hanya dalam kurun waktu tiga bulan. Angka ini bukan hanya statistik di atas kertas, melainkan sebuah bukti nyata (proof of concept) bahwa intervensi gizi yang tepat, terukur, dan kolaboratif dapat menghasilkan perubahan cepat dan berdampak langsung pada kualitas hidup generasi penerus.
Program PEGAS di Gresik dilaksanakan secara bertahap di 18 Puskesmas sepanjang periode Agustus hingga Desember 2025. Program ini menyasar balita usia 0–57 bulan yang telah melalui skrining ketat dan teridentifikasi mengalami stunting, tanpa disertai kelainan bawaan atau infeksi kronis seperti tuberkulosis. Dari 60 balita yang terdaftar pada fase awal, 56 balita (93,3%) berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian intervensi hingga akhir, menunjukkan tingkat retensi dan kepatuhan yang tinggi dari para orang tua.
Anatomi Keberhasilan: Tiga Pilar Intervensi Terintegrasi
Keberhasilan dramatis ini bertumpu pada tiga pilar intervensi yang dijalankan secara simultan dan saling memperkuat:
- Pemberian Pangan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK): Intervensi ini menjadi fondasi. PKMK yang diberikan bukan produk nutrisi biasa. Ia telah memenuhi standar ketat Badan POM (PerBPOM No.24/2020) dengan spesifikasi unggul: densitas energi 1,01 kkal/ml dan Protein Energy Ratio (PER) 10,4%. Lebih dari sekadar sertifikasi, produk ini memiliki landasan ilmiah yang kuat, telah teruji secara klinis pada populasi anak Indonesia dan dipublikasikan secara internasional, dengan bukti kemampuan meningkatkan berat dan tinggi badan anak malnutrisi setelah tiga bulan penggunaan.
- Pemantauan Rutin dan Ketat: Setiap perkembangan anak dipantau dengan cermat setiap dua minggu sekali. Pengukuran antropometri yang konsisten ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini dan alat umpan balik yang vital. Data yang terkumpul secara real-time memungkinkan tim penanganan mengevaluasi efektivitas intervensi dan melakukan penyesuaian yang diperlukan dengan cepat, memastikan tidak ada anak yang tertinggal.
- Pendampingan Klinis via Telemedicine oleh Dokter Spesialis Anak (DSA): Ini adalah elemen pemutus mata rantai yang seringkali hilang di layanan dasar. Melalui pendampingan klinis jarak jauh (telemedicine), tim DSA dapat memberikan supervisi, konsultasi, dan arahan langsung kepada tenaga kesehatan Puskesmas di garis depan. Forum diskusi daring ini memungkinkan tata laksana kasus yang lebih presisi, pengambilan keputusan klinis yang lebih baik, serta penguatan kapasitas tenaga kesehatan puskesmas dalam menangani stunting.
Dampak Nyata dan Analisis Hasil: Di Balik Angka 26,79%
Analisis mendalam terhadap 56 balita yang menyelesaikan program mengungkap gambaran dampak yang lebih rinci dan menggembirakan:
- 64,28% balita menunjukkan perbaikan status gizi yang jelas, meski belum sepenuhnya keluar dari kategori stunting. Kelompok ini menunjukkan tren pemulihan yang konsisten dan positif.
- 8,93% balita masih memerlukan pendampingan intensif lanjutan dari DSA untuk mencapai status gizi optimal, mengindikasikan kasus yang lebih kompleks atau mungkin disertai faktor medis/lingkungan tambahan.
- Secara keseluruhan, 91,07% balita peserta dengan masalah gizi kurang dan stunting menunjukkan perbaikan status gizi. Angka ini merefleksikan keberhasilan model intervensi secara keseluruhan.
dr. Wiweka Merbawani, Sp.A, salah satu DSA yang terlibat, menekankan bahwa keberhasilan ini harus dilihat sebagai bagian dari upaya yang lebih besar. “Penguatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) oleh kader dan tenaga Puskesmas kepada ibu hamil dan orang tua adalah fondasi yang tidak tergantikan. PEGAS efektif menangani, tetapi pencegahan melalui KIE yang masif sejak dini akan lebih sustainable,” ujarnya. Ia juga mendorong agar program semacam PEGAS tidak berhenti sebagai pilot project, tetapi dilanjutkan dan diperluas cakupannya.
Belajar dari Gresik: Kolaborasi dan Replikabilitas
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, dr. Anik Luthfiyah, M.Ked., menggarisbawahi beberapa faktor kunci keberhasilan. Pertama, kolaborasi vertikal dan horizontal yang solid antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, rumah sakit (melalui DSA), dan dukungan teknis dari sektor swasta dalam hal penyediaan PKMK. Kedua, pemanfaatan teknologi telemedicine yang berhasil menjembatani kesenjangan akses ke spesialis dan memastikan kualitas konsultasi. Ketiga, fokus pada pemantauan data-driven yang memungkinkan evaluasi objektif dan akuntabilitas.
“Konsultasi langsung dengan DSA via telemedicine memastikan intervensi gizi benar-benar personal dan sesuai kebutuhan medis masing-masing anak. Ini adalah nilai tambah yang luar biasa,” kata dr. Anik. Ia juga menyampaikan bahwa pembelajaran dari PEGAS akan langsung diimplementasikan dalam strategi 2026, dengan penekanan lebih besar pada skrining dini dan pencegahan, serta perencanaan yang lebih matang untuk ketersediaan suplemen pendukung seperti sirup zat besi.
Momentum Menuju Zero Stunting: Refleksi Hari Gizi Nasional
Pencapaian Gresik ini menjadi relevan khususnya dalam menyambut peringatan Hari Gizi Nasional setiap 25 Januari. Ia menjadi pengingat bahwa peringatan tersebut harus bermakna aksi, bukan seremonial belaka. “Keberhasilan ini membuktikan bahwa penurunan stunting memerlukan program nyata, terukur, dan berkelanjutan di tingkat layanan paling dasar,” tegas dr. Anik.
Program PEGAS di Gresik telah memberikan sebuah cetak biru (blueprint) yang terbukti efektif: kombinasi nutrisi medis spesifik, pemantauan ketat berbasis data, dukungan spesialis melalui teknologi, dan kolaborasi erat antar pemangku kepentingan. Model ini menawarkan harapan dan jalan yang jelas bagi daerah-daerah lain di Indonesia. Dalam perjuangan kolektif menuju target zero stunting, inovasi berbasis bukti seperti PEGAS bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan. Kisah sukses Gresik menyampaikan pesan optimis: dengan pendekatan yang tepat, komitmen kuat, dan kerja sama semua pihak, percepatan penurunan stunting bukanlah mimpi, tetapi tujuan yang dapat diwujudkan.




