Bisnis.com, JAKARTA — Transaksi menggunakan kartu ATM dan debit mengalami peningkatan di tengah masifnya penggunaan layanan keuangan berbasis digital.
Berdasarkan Statistik Sistem Pembayaran dan Infrastruktur Pasar Keuangan Indonesia (SPIP) yang dirilis Bank Indonesia (BI), kartu ATM dan debit secara volume maupun nilai transaksi mengalami peningkatan per November 2025.
Dalam laporannya, otoritas moneter mencatat volume transaksi kartu ATM dan debit tumbuh 5,38% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi 554,85 juta dari periode yang sama tahun lalu sebanyak 526,51 juta.
Sejalan dengan meningkatnya volume transaksi, nilai transaksi kartu ATM dan debit juga ikut meningkat signifikan sebesar 17,68% YoY menjadi Rp631,68 triliun. Pada November 2024, nilai transaksi kartu ATM dan debit mencapai Rp536,80 triliun.
Jika dilihat menurut kawasan, Jawa Barat menjadi provinsi dengan volume transaksi kartu ATM dan debit tertinggi per November 2025. Tercatat volume transaksi di provinsi ini mencapai 88,07 juta.
Urutan selanjutnya ditempati oleh Jawa Timur sebesar 73,18 juta, diikuti Daerah Khusus Jakarta 68,63 juta, Jawa Tengah 62,33 juta, dan Banten sebanyak 27,79 juta.
Sementara itu dari sisi nilai transaksi, Jawa Barat menempati posisi teratas dengan total nilai Rp89,85 triliun, diikuti Jawa Timur Rp85,04 triliun, Jawa Tengah Rp72,90 triliun, Daerah Khusus Jakarta Rp66,67 triliun, dan Sumatra Utara sebesar Rp30,29 triliun per November 2025.
Jumlah kartu ATM dan debit juga meningkat. Per November 2025, jumlah kartu ATM dan debit tumbuh 3,85% YoY menjadi 328,93 juta kartu, dari periode yang sama tahun lalu 316,74 juta kartu.
Masih Jadi Pintu Utama Akses Rekening BankKepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menilai, meningkatnya volume dan nilai transaksi kartu ATM dan debit menjadi bukti bahwa kartu masih menjadi pintu utama untuk mengakses rekening bank.
“Ini dapat dibaca sebagai bukti bahwa kartu masih menjadi pintu utama untuk mengakses rekening bank, bukan semata alat belanja,” kata Josua kepada Bisnis, Rabu (4/2/2026).
Menurutnya, penggunaan kartu ATM dan debit tidak sebatas sebagai alat belanja, tercermin dari transaksi belanja menggunakan kartu yang cenderung turun dari sisi volume.
Tercatat volume transaksi belanja menggunakan kartu ATM dan debit menyusut 7,66% YoY menjadi 88,17 juta kartu dari periode yang sama tahun lalu sebanyak 95,49 juta.
Josua menyebut, penurunan transaksi belanja memakai kartu ATM dan debit konsisten dengan pergeseran belanja harian bernilai kecil ke QRIS dan uang elektronik, karena QRIS lebih praktis untuk transaksi cepat di banyak pedagang kecil.
Kendati begitu, Josua mengatakan bahwa kartu ATM dan debit tetap relevan untuk kebutuhan yang lebih sulit tergantikan, seperti tarik tunai, transfer bagi segmen yang masih mengandalkan ATM, serta belanja bernilai lebih besar yang sering kali membutuhkan batas transaksi yang lebih longgar dibanding QRIS yang dibatasi paling banyak Rp10 juta per transaksi.




