Rusia Gempur Infrastruktur Energi Ukraina Saat Suhu Ekstrem

tvrinews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Fityan

TVRINews- Kyiv

Serangan udara menyasar fasilitas vital di tengah suhu -20 derajat Celsius; PM Inggris sebut tindakan tersebut 'biadab'.

Gelombang serangan udara Rusia menghantam sektor energi Ukraina pada selasa 3 Februari 2026 memicu krisis kemanusiaan baru di tengah suhu ekstrem yang mencapai -20 derajat Celsius. 

Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, mengutuk keras aksi tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang "biadab" serta "sangat bejat."

Komentar tersebut disampaikan Starmer usai menjalin komunikasi dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. 

Serangan ini dilaporkan menyasar pembangit listrik dan infrastruktur kritis di ibu kota Kyiv serta sejumlah wilayah lainnya, mengakhiri jeda serangan selama satu minggu yang sebelumnya diminta oleh Trump kepada Presiden Vladimir Putin.

Krisis Energi di Tengah Musim Dingin

Dampak dari serangan ini dilaporkan sangat luas. Di Kyiv, lebih dari 1.000 blok apartemen kehilangan akses pemanas, sementara sebuah pembangkit listrik di Kharkiv dilaporkan mengalami kerusakan permanen yang tidak dapat diperbaiki.

Ribuan warga terpaksa bermalam di stasiun-stasiun bawah tanah untuk mencari perlindungan. Beberapa warga bahkan mendirikan tenda di peron stasiun guna menghalau suhu yang membekukan. 

Otoritas setempat kini berupaya mendirikan pusat-pusat penghangat dan menambah pasokan generator untuk mengatasi pemadaman listrik yang diprediksi akan berlangsung lebih lama.

Diplomasi di Balik Serangan

Presiden Trump memberikan tanggapan terkait berakhirnya jeda serangan tersebut. Ia menyatakan bahwa Putin telah "menepati janjinya" untuk menghentikan serangan selama satu minggu.

"Kesepakatan itu berlaku hingga Minggu, dan dia (Putin) menjalankannya dari Minggu ke Minggu," ujar Trump kepada wartawan. "Satu minggu adalah waktu yang berarti bagi kami, karena di sana saat ini benar-benar dingin."

Meskipun Trump terus memimpin upaya untuk mengakhiri perang, pihak Rusia sejauh ini masih menolak seruan gencatan senjata permanen. Saat ini, utusan khusus AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dijadwalkan bertemu dengan tim negosiator dari Rusia dan Ukraina di Abu Dhabi untuk membahas proposal perdamaian.

Kebutuhan Mendesak Pertahanan Udara

Di tengah eskalasi ini, Ukraina terus mengeluhkan kekurangan rudal pertahanan udara dan mendesak sekutu untuk mempercepat pengiriman bantuan. 

Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, yang mengunjungi Kyiv sesaat setelah serangan, meminta negara-negara anggota untuk memprioritaskan bantuan militer dari stok yang mereka miliki.

Titik buntu utama dalam perundingan saat ini dilaporkan berpusat pada tuntutan Rusia agar Ukraina menyerahkan sisa wilayah di kawasan industri Donbas yang belum sepenuhnya dikuasai Moskow. Sejak invasi skala penuh dimulai pada Februari 2022, konflik ini terus menjadi ujian berat bagi stabilitas keamanan dan kemanusiaan di Eropa Timur.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prabowo Bertemu Pimpinan Ormas Islam dan Tokoh Pesantren di Istana, Bahas Apa?
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
Purbaya Ngebet Bos OJK Segera Terpilih, Surati BI Bentuk Pansel
• 8 jam laludisway.id
thumb
KPK Duga Aset Tak Terdata LHKPN RK Ada di Jabar Sampai Luar Negeri
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Terpopuler: Dida dan Emil Audero Diserang Flare, Michael Carrick Terlalu Sukses Bikin MU Pusing
• 14 jam laluviva.co.id
thumb
Revisi UU P2SK Bergulir, DPR dan Pemerintah Fokus Perkuat Pasar Modal serta Aset Digital
• 52 menit lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.