Kasus Anak Bunuh Diri di NTT, Komisi X DPR Minta Sekolah Cek Mental Siswa

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Wakil Ketua Komisi X, Lalu Hadrian meminta seluruh sekolah di Indonesia mengecek kesehatan mental siswa-siswanya. Permintaan ini dilontarkan buntut kasus bunuh diri anak kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) berinisial YBS (10 tahun).

“Ya tentu kami setuju terkait dengan hal (cek kesehatan mental siswa) tersebut, makanya di beberapa kesempatan kami selalu mengatakan bahwa sekolah hari ini wajib mengetahui kondisi psikis dari masing-masing siswa siswi,” ucap Lalu di Gedung DPR, Rabu (4/2).

Menurutnya, Komisi X telah meminta Kemendikdasmen untuk menyampaikan kepada para guru dan sekolah untuk memahami kondisi psikis siswa.

“Akibat dari kekerasan yang kerap muncul di dunia pendidikan, maka kami sudah menyampaikan kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah agar sekolah-sekolah tersebut atau keluarga besar sekolah termasuk guru dan sebagainya itu diberikan pemahaman tentang kesehatan kejiwaan, kesehatan mental,” ucap Lalu.

Bahkan, Komisi X berpandangan, sekolah harus didampingi oleh seorang psikolog profesional.

“Bila perlu akibat kekerasan yang hari ini terjadi, kekerasan verbal, kekerasan fisik maupun kekerasan seksual, sekolah harus didampingi oleh psikolog atau ahli kejiwaan yang profesional. Apakah itu melalui pelatihan guru, pendampingan dan sebagainya ini harus dilakukan. Karena ini sudah kondisinya sangat darurat sekali,” tutur Lalu.

“Kita sangat miris dan sangat memilukan peristiwa ini,” tambahnya.

Akibat kejadian yang menimpa YBS itu, Lalu menyebut Komisi X akan memanggil Mendikdasmen, Abdul Mu’ti untuk melakukan sebuah pembahasan mendalam.

“Ya tentu, Mendikdasmen selaku penanggung jawab tertinggi yang diberikan oleh Presiden, ya tentu harus segera mengambil langkah nyata, langkah cepat untuk mengatasi persoalan ini. Anak-anak dalam hal ini, siswa siswi tidak boleh terbebani hanya karena keuangan atau kemampuan ekonomi orang tua mereka terbatas,” ucap Lalu.

“Pendidikan wajib tidak boleh berhenti hanya gara-gara faktor ekonomi. Berikutnya mental dari anak-anak juga harus diperhatikan. Lingkungan sekitar, tetangga, kerabat, keluarga harus aware juga dengan persoalan ini. Tidak bisa kita melihat atau membiarkan persoalan ini tanpa harus memberikan solusi atau langkah-langkah cepat,” tambahnya.

Rapat khusus membahas kasus itu pun akan digelar pekan depan.

“Sebelum masa reses, reses itu kan tanggal 18 (Februari) ya, sebelum itu kita jadwalkan, minggu depan insyaallah,” ucap Lalu.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Baru Dilantik Purbaya 28 Januari Lalu, Rizal Kepala Kantor Ditjen Bea dan Cukai Sumatera Diringkus KPK
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
3 Daerah di Aceh Masih Berstatus Tanggap Darurat Bencana
• 21 jam laluokezone.com
thumb
Dua Pemain Asing Baru PSM Segera Bergabung
• 12 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Cerita Penjual Tahu di Makam Sunan Ampel, 45 Tahun Pulang Pergi Jombang-Surabaya
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
5 Potret limbah mirip cacahan uang Rp50-Rp100 ribu ditemukan di TPS liar Bekasi
• 2 jam lalubrilio.net
Berhasil disimpan.