JAKARTA, KOMPAS.TV - Seorang anak di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku dan pena.
Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Sani Budiantini Hermawan menjelaskan dampak faktor ekonomi pada psikologis anak.
"Faktor ekonomi juga salah satu yang membuat anak itu menjadi merasakan ketidakbahagiaan, ketidaksejahteraan," katanya dalam program Kompas Siang KompasTV, Rabu (4/2/2026).
Ia mengungkap kadang-kadang anak juga bisa membandingkan kondisi dirinya dengan anak lain.
"Kok saya seperti ini, kok anak lain tidak," ujarnya mencontohkan.
Oleh karena itu, Sani menjelaskan bagaimana kemiskinan bisa memengaruhi kondisi psikologis anak.
"Sebenarnya kemiskinan itu membuat seorang anak juga menjadi terpuruk secara perasaan, demotivasi, merasa putus asa," ucapnya.
Terlebih, kata dia, keluarga dalam kondisi kemiskinan terkadang kurang berdialog karena memprioritaskan bagaimana memenuhi kebutuhan dasarnya terlebih dahulu.
Baca Juga: Mensos Buka Suara Soal Kasus Anak di NTT Bunuh Diri Diduga Tak Mampu Beli Buku & Pena
Maka dari itu, Sani memandang kasus anak mengakhiri hidup diduga karena tidak mampu membeli buku dan pena tidak lepas dari tanggung jawab pemerintah atau negara.
"Kalau kita ngomong kemiskinan, berarti bukan masyarakat saja yang bertanggung jawab, tapi juga pemerintah juga ikut harus bagaimana memberaskan kemiskinan," katanya.
Ia mengatakan, kemiskinan harus ditangani pemerintah sehingga anak yang mestinya menjadi generasi penerus bangsa tidak menjadi korban karena kemiskinan yang tidak terberantas, hingga akhirnya menimbulkan korban pada anak.
Sani menekankan, anak merupakan tanggung jawab negara ketika orang tua juga tidak mampu dalam hal ekonomi, yang mana dalam hal ini pihak yang terdekat adalah pemerintah desa.
"Memang perlunya bagaimana pemerintah desa menggalakkan lagi mungkin pundi-pundi sumbangan yang bisa membantu, paling tidak memberantas kelaparan misalnya, atau bagaimana juga masyarakat setempat diberdayakan juga untuk bisa berempati," ujarnya.
Ia mengatakan, pemerintah desa bisa mengupayakan bantuan agar tidak ada anak yang kelaparan, kemudian mengalami trauma.
"Sebenarnya kekurangan atau masalahnya ini bisa mudah sekali diselesaikan apabila ada yang namanya social awareness, ada empati, ada rasa tanggung jawab sosial," kata Sani.
Baca Juga: Mendikdasmen Buka Suara soal Siswa SD di NTT Diduga Bunuh Diri, Sebut Bakal Selidiki
Ia menuturkan bahwa peran sekolah juga sangat penting, misalnya dengan memetakan anak-anak yang kurang mampu.
"Dan bagaimana juga anak diberikan semacam keyakinan bahwa kalau dia tidak mampu, dia bisa berbicara dengan guru, dengan mungkin konselor, dan bagaimana juga bisa saling membantu sehingga tidak ada anak yang merasa sendiri," imbuhnya.
Sani mengimbau orang tua harus bisa memvalidasi perasaan anak agar regulasi emosi anak menjadi sehat dan tidak melakukan tindakan yang tidak semestinya.
"Kadang-kadang perasaan anak itu diabaikan saja, orang tua tidak peka," katanya.
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Fadhilah
Sumber : Kompas TV, Antara
- anak bunuh diri
- siswa bunuh diri
- siswa NTT bunuh diri
- psikolog anak
- bunuh diri



