REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT BRI Asuransi Indonesia (BRINS) atau BRI Insurance menyatakan terus memperkuat tata kelola dan manajemen risiko yang terintegrasi sebagai bagian dari strategi menjaga keberlanjutan bisnis di tengah dinamika industri keuangan. Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko BRI Insurance Heri Supriyadi, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (4/2/2026), mengatakan penguatan tata kelola dan manajemen risiko menjadi fondasi utama dalam menjaga kepercayaan nasabah.
“Kami percaya bahwa kepercayaan nasabah hanya dapat dijaga melalui prinsip kehati-hatian dan integritas yang konsisten,” ujar Heri.
- Tragedi Siswa SD Bunuh Diri di NTT, Kemendikdasmen Tekankan Pentingnya Dukungan Psikososial Anak
- Tina Wiryawati Dorong BUMD Jabar Terapkan Energi Terbarukan
- Comeback Selepas Cedera, Ester Nurumi Persembahkan Poin dalam Kemenangan atas Hong Kong di BATC
Heri menjelaskan perseroan berupaya menjaga prinsip kehati-hatian dan integritas dalam menjalankan fungsi governance, risk, dan compliance. Penguatan tersebut juga diarahkan untuk mendukung pengembangan layanan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Komitmen tersebut, menurut Heri, tecermin dalam penilaian yang diterima BRI Insurance pada ajang Indonesian Governance Risk Compliance (IGRC) Awards 2026. Ajang ini menilai aspek tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, serta inovasi yang dijalankan perusahaan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Dalam ajang tersebut, BRI Insurance memperoleh sejumlah nominasi, yakni The Most Trusted Financial Company in ERM, The Most Trusted Financial Company in Governance, dan The Most Trusted Financial Company in GRC.
Perusahaan juga meraih penghargaan untuk kategori The Most Trusted Financial Company in ERM.
Direktur Utama BRI Insurance Budi Legowo menambahkan apresiasi tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap perusahaan.
Ia berkomitmen menjaga konsistensi perbaikan kinerja serta kualitas layanan perlindungan melalui transformasi dan inovasi yang berkelanjutan.
Sebagai informasi, BRI Insurance membukukan laba bersih sebesar Rp 467 miliar pada kuartal III 2025. Profit margin tercatat sebesar 15 persen dan hasil underwriting mencapai 31,23 persen. Sementara itu, premi bruto tercatat sebesar Rp 3,12 triliun.
Meski secara keseluruhan kinerja keuangan hingga September 2025 masih sedikit di bawah rencana kerja dan anggaran (RKA) akibat dampak penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 117 yang menekan pencatatan laba, prospek hingga akhir tahun tetap optimistis.
Perseroan menargetkan premi bruto di atas Rp 4,5 triliun pada akhir 2025 dengan fokus pada pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan.




