Ketua DPR RI, Puan Maharani menyorot kasus YBS (10), siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, NTT yang bunuh diri usai meminta dibelikan buku dan alat tulis ke ibunya, tapi tak dipenuhi. Menurut Puan, isu kesehatan dan psikologi anak menjadi penting di kasus ini.
“Kasus kematian anak di Kabupaten Ngada tersebut tentunya merupakan duka yang cukup memilukan dan harus menjadi pembelajaran,” kata Puan dalam keterangannya, Rabu (4/2).
Puan menilai, tak bisa dipenuhinya kebutuhan dasar anak ini menjadi teguran bagi negara.
Menurutnya, program pendidikan dari pemerintah tak cukup hanya memberikan pendidikan gratis. Kebutuhan penunjang juga tak kalah pentingnya untuk siswa yang tak mampu.
“Program-program pendidikan terutama beasiswa dan bantuan pendidikan harus bisa mengatasi persoalan ini,” imbuh Puan.
“Sekolah harus bisa memetakan latar belakang anak didiknya, dan memastikan setiap kebutuhan pendidikan dapat diberikan,” lanjutnya.
Selain itu, Puan juga menyorot pentingnya isu kesehatan mental pada anak.
“Kasus di NTT ini menjadi satu contoh lagi betapa psikologi anak dapat berpengaruh terhadap karakter dan keputusan mereka. Kesehatan mental anak harus menjadi perhatian,” ungkap mantan Menko PMK itu.
Puan pun berharap kasus meninggalnya YBS ini bisa menjadi pembelajaran bagi semua pihak, terutama pemerintah dalam hal program dan sistem pendidikan nasional.
“Peristiwa ini harus menjadi titik balik untuk mengevaluasi sistem pendidikan yang ramah anak dan mampu menjaga kesehatan anak didik secara menyeluruh termasuk kesehatan mental dan psikologi,” papar Puan.
Puan mendorong agar isu kesehatan mental dan psikologi anak lebih diperkuat di sekolah.
“Pendidikan yang baik harus mampu memberikan ruang nyaman bagi anak saat belajar. Bagaimana sekolah turut memperhatikan personal dan ekonomi siswanya,” jelas perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu.
Puan turut meminta pemerintah agar lebih menjangkau masyarakat di daerah untuk menyalurkan bantuan sosial. Ia menyatakan kepedulian sosial di lingkungan sekolah harus jadi satu peta jalan dalam sistem pendidikan.
“Kita perlu lihat persoalan di Ngada secara jauh lagi, kasus ini muncul karena kemiskinan. Sehingga negara harus menghilangkan akar masalah kemiskinan,” ungkap Puan.
Diketahui, semasa hidupnya, YBS tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun di pondok kecil. YBS dititipkan oleh ibunya yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan. Ibunya harus menafkahi 5 orang anaknya, dan tidak mampu membelikan alat tulis dan buku seharga Rp 10.000 saat diminta YBS.
Oleh karena itu, Puan mendorong agar program pendidikan diselaraskan dengan program-program bantuan sosial karena saling berkesinambungan.
“Program-program Pemerintah harus diarahkan untuk mengatasi persoalan mendasar dalam kasus ini, yaitu kemiskinan,” tegas cucu Bung Karno tersebut.
“Jangan sampai ada nyawa generasi muda Indonesia yang hilang lagi, hanya karena merasa tertekan karena tidak mampu membeli buku dan pulpen,” pungkas Puan.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5478784/original/010546900_1768923115-14.jpg)

